Tangisan Evva dan Evvy

  • Bagikan

C e r p e n

KEDUANYA serahim dari Melinda. Sebatang kara merawat-besarkan dua Kembar cantik. Tak disetujui oleh orangtua Dirman mengingat perbedaan Agama, berakhir pada perpisahan.

Semenjak kedua buah Hati, duduk dibangku SD. Perpisahan dua cinta itu, Melinda selalu tegar menghadapi kehidupan kota besar yang serba menantang.

Melinda tidak penat walaupun hanya sebagai tenaga perawat di RS. dr. Soeroso, yang di kendali dr. Cipto,M.Kep.Med. Ia sangat berpengertian dengan semua Staf. Apalagi dengan si janda muda Melinda.

Bunyi deringan handphone terngiang di telinganya. Ia lantas menerima calling dr.Cipto.suasana kontrakan sepi. Evva dan Evvy telah gegas ke sekolah.

“Melinda, esok bisa temani dr.Ririn untuk operasi Cesar pada Ibu Muda yang baru awal persalinan. dr. Ririn membutuhkanmu” pesannya.

Baik dokter “sembari mengangguk kepala.

Mentari belum juga membias cahaya pagi. Ia terbangun mengurusi semua kebutuhan makan-minum pagi. Tugas janda muda yang sabar, menyelesaikan tugas keibuannya.

“Pagi Bun, Kami berangkat dulu”.
“Hati-hati dijalan Nak!”.

Melihat keduanya pergi dengan bang Abba, si Ojek langganan. Saat pandangan hilang dari halaman kontrakan.

Melinda balik kanan dan menuju ruang rekreasi. Dengan keseriusan menyimak pemberitaan di MetroTV.

Melinda kaget dan terperangah dengan informasi duka datang dari negeri padat penduduk, Cina.

“Akibat Pandemi Virus Covid -19, perhari 700 jiwa mati merantai. Penyakit gelap yang tak dapat dilihat dengan indera. Sangat berbahaya dan merenggut ribuan jiwa dalam sepekan. Dan telah mewabah hingga benua Amerika. Rumah-rumah sakit di Cina menjadi padat. Para dokter dan perawat tidak sebanding pasien Covid-19”.

Melinda menggelengkan kepala dan takut, bila pandemi ini masuk ke ibukota.
“Bagamana nantinya buah hati Kembarku?”.
Fikirnya kembali dukuasai wajah muda,Dirman.
“Kamu, dimana?”.
Tok..tok…tok…
Sudah pada pulang?”.
“Kami disuruh Belajar dari Rumah oleh ibu Sri. virus Corona sudah masuk ke ibukota.

Baca Juga:  Selimut Hitam

Malam makin sepi dan menepi dalam kesunyian kontrakan.Kedua buah hati tertidur pulas. Jam dihujung 10 malam. Notebook mini didendangkan hits-hits Rohani. Tarian jemari terus berkelana diatas keyboard. Laporan lembur sudah tuntas di tengah malam.

Keesokan itu, kokohan jago kesayangan Pak Nurdin, menyapa Pagi. Dahan-dahan Mangga turut menyaksikan Nyanyian pagi. Sholat pagi digemakan, melinda menuju ke gerbangnya Kontakan nampak sepi di jalan menuju Masjid.

“Waow, dijalanan pada sepi”.
Dampak pandemi menjadikan ketukan pada semua insani untuk tidak boleh keluar ditengah keramaian.

“Bagaimana dengan anak-anakku, bila Aku dihotelkan dekat RS dr. Soeroso ?”.
“TUHAN, beri Aku kekuatan”.

Malam Minggu,malam panjang untuk refresing dengan kedua buah hati terkandas oleh rapat internal manajemen RS dr.Soeroso, bahwa semua dokter dan perawat dihotelkan selama pandemi Covid-19.

“Aku,harus beri penguatan kepada Evva dan Evvy ,juga menipu agar tidak membuat mereka menjadi sedih ditinggalkan olehku. Aku harus juga, meminta Pak Nurdin dan Ibu Nurdin untuk menemani, sampai waktunya kembali bersama”.

Malam minggu menjadi berantakan oleh hantuan fikir yang tidak habis dan menjauh. Kerena masih sedu, Evva dan Evvy asyik menonton acara anak Upin & Ipin. Melinda menuju ke rumah Pak Nurdin.
“Ada apa Melinda?.
“Ada yang ingin aku sampaikan. Besok jam 09.00pagi, kami harus segera ke Rumah Sakit untuk dihotelkan. Pasien virus, sudah menjadi perhatian khusus kami. Aku minta, Pak Nurdin dan ibu, bisa temani Evva dan Evvy. Dan tinggal bersama saja disini. Aku akan kembali “.
“Baik Melinda. Hati-hati,jaga kesehatanmu” sambung Ibu Nurdin.
*****

Pagi itu dihari Minggu, melinda menyiapkan pakaian dan semua yang harus digunakan. Tersimpan rapi dalam Cover mini.
“Mau kemana,bu!”. Tanya si Evva.

“Ibu, akan ke rumah Sakit .cover ini, milik Lastri teman kerja ibu!. Antar sekarang dan Ia sedang Menanti Ibu. Sebentar ada hadiah 2 buah sepeda buat kalin, ada diantar sebentar juga” . Ceritanya. Ibu Seminggu di RS, kalian bareng bersama Pak Nurdin dan Ibu Nurdin. Pintanya.

Baca Juga:  Selimut Hitam

Karena Melinda sudah menipu kedua buah hatinya, melinda memeluk Keduanya dengan Linangan. Melihat Kesedihan sebuah Perpisahan, Pak Nurdin dan Ibu menundukkan Kepala dengan mata berkaca.

“Pak, Ibu, Melinda Pamitan . Hati-hati, Kami akan menjaga Evva dan Evvy sampai kembali”.

2 bulan kemudian…
Kabar tidak terdengarkan.Hasrat evva dan evvy menjadi tanda tanya untuk mengobati kerinduan.

Keinginan besar menjadi penghalang oleh pesan terakhir bahwa seminggu akan segera Kembali. Namun, waktu bergulir begitu cepat, deringan calling olehnya tidak pernah terkabulkan. Semuanya terkubur oleh Misteri yang Kasih sayang. Akankah ini, waktunya Perpisahan?.
Evva yang sedang bersepeda di halaman rumah jatuh bersamanya. Evva lantas menangis, meminta Pak Nurdin menghubungi ibunya. Pak Nurdin membungkam tidak merespons permintaan pertemuan.
“Sebentar, kita akan menemui ibu kalian..!”.

Apa yang dijanjikan menjadi hutang akan harus segeralah untuk dilunasinya. Ibu Nurdin yang sedang mengompres memar pada lutut Evva, menguping lantar membisu. Ibu Nurdin menatap wajah sedih kedua putri kesayangan Melinda, juga turut merasa bersalah dengan perhatian semenjak ditinggalkan. “Apa ada tanda Kesedihan?”.

Melihat Kembaran Melinda disemangati oleh pak Nurdin, mereka menuju ke Kamar dan tertidur pulas. Kelegaan benak Pak dan Ibu Nurdin terasa ringan karena keduanya sudah dibalut Mimpi.
Ibu Nurdin kaget, dengar suara dari halaman rumah dengan memberi Salam. Lelaki Muda yang asing dengan bermasker Putih dan memakai Helm. Mendekati lelaki itu, dan bertanya, “apa benar ini, Kontrakan Ibu Melinda?” Tanya Si lelaki.

“Siapakah Kamu?”. Saya , Dirman. Calon suaminya yang waktu itu, tidak disetujui dan Kami Berpisah. Anak Kami kembar , perpisahan itu, keduanya masih kecil. Saya mau datang memeluk mereka juga memberitahukan kabar duka”. Ceritanya.
“Apa Melinda?”.
Terketuk hatinya Evvy, seperti suara baru yang sedang berbincang, Evvy keluar dan menuju ke sumber bincang.
“Evvy, Aku ayahmu. Persetujuan dan terjadinya perpisahan waktu itu. Mana Evva?”.
Evvy hanya diam menatap wajah lelaki itu, dengan raut sedih.
“Nak Dirman, Kita ke rumah Saja. Tempat tidak tepat.

Baca Juga:  Selimut Hitam

Pandangan Evvy tidak habis-habisnya menatap Raut wajah lelaki itu. Evvy merasakan sentuhan suara hatinya, ” Evvy , itu Ayah Kalian”.

Suara itu, seperti suara ibunya. Entahlah, suara Ibuku.
Pak Nurdin menemani Evva, keluar dari kamarnya. ” Evva, ini Ayahmu”!.

Ia juga sama terbius bisa bisu, dengan menatap paras Muda yang persis dengan foto yang tersimpan pampang di Meja kerja ibu. Dan Ia, pernah diceritakan oleh Ibu bahwa, Ayah kalian bernama, Dirman Abbast. Cerita lalu, membuat benak pikirannya menjadi berkeping-keping. Evva memberi Senyumnya, Pemuda itu pun membalasnya. Dengan deraian sudah tidak lagi berkaca.

Pemuda itu, membuka perbincangan di senja itu.

“Pak, ibu!, Saya Dirman abbast”
Mendengar luapan kejujuran dari hati yang paling dalam, Evva pun memeluknya dengan linangan yang tak habisnya. Evvy pun sama, ketiganya saling memeluk sedih, terlepas sudah semua yang mendulang selama hampir 5thn silam.
“Terimakasih TUHAN “.

“Pak,Ibu!. Sy tadi mendapat kabar dari dokter diRS tempatnya bekerja dan juga Ia adalah teman Semasa kecil , yang memberitahukan bahwa, Melinda telah meninggal bersama Dr. Ririn dan dua perawat lainnya karena terinfeksi Corina Virus. Dan Dokter itu, yang memberitahukan alamat Rumah ini”.

“Ibuuuuuuuuuuu…” Evva dan Evvy menangis dan dilanda duka atas kepergian tanpa pesan. Kerinduan selama sebulan terkandas oleh Pandemi yang membatasi Akses Cinta.

“Tiap perpisahan adapula pertemuan, Pertemuan juga, Misteri “.

********************

Oleh : Melkianus Nino

  • Bagikan