Beritakan Timor Leste Kena Jebakan Utang China, Ramos Horta Sebut Jurnalis Konyol

  • Bagikan

Timorberita. Dili – China diketahui mempunyai proyek One Belt One Road (OBOR). OBOR merupakan jalur perdagangan China menghubungkan dua benua yakni Asia ke Eropa.

Alasannya lumrah China ingin membangun OBOR ini lantaran untuk memperlancar ekspor barang buatan dalam negerinya ke Asia hingga Eropa secepat, seefisien mungkin.

Namun China tidak serta merta bisa mewujudkan mimpinya ini karena OBOR melewati teritori lautan negara lain.

Untuk memuluskan langkahnya, China kemudian melakukan lobi-lobi ke negara-negara terdampak dengan meminjamkan sejumlah dana untuk membangun infrastruktur pelabuhan ke negara peminjam.

Akan tetapi kita ambil contoh Sri Lanka yang tak bisa membayar pinjaman lantas operasional pelabuhan diambil oleh China.

Pengamat Inggris pernah berkata hal di atas adalah cara China dalam mempermulus OBOR.

Pada 2017 lalu, Timor Leste yang juga termasuk dalam proyek OBOR menerima bantuan dana serupa dengan Sri Lanka.

Baca Juga:  Kisah Timor Timur Dari Provinsi Menjadi Negara Timor Leste

Dikutip zonajakarta.com dari Global Times, Kamis (22/10/2020) banyak jurnalis di seluruh dunia melihat bantuan dana China ke Dili ialah jebakan utang.

Melihat pemberitaan itu mantan Presiden Timor Leste, Jose Ramos Horta menyebut jurnalis konyol yang menulis demikan.

“Para jurnalis konyol menulis dengan imajinasi tentang “orang China yang berbahaya” di sini di Timor Leste,” kata Horta kepada Global Times.

Horta menyebut jurnalis tersebut bukan berasal dari Indonesia maupun Australia yang menjadi sekutu Timor Leste.

“Tapi kali ini bukan seorang jurnalis atau akademisi Australia yang membayangkan negatifnya “pengaruh China” di Timor Leste, biang keladinya adalah jurnalis Jepang,” ungkap Horta.

Ia mengatakan jurnalis Jepang tak obyektif dalam pemberitaanya terkait Timor Leste.

Baca Juga:  Menteri Asal Pulau Dewata Bangun Rumah Perlindungan Perempuan Semua Daerah

“Jurnalis Jepang terkenal tidak bisa dan tidak ingin berpura-pura “objektif” ketika menulis tentang China,” ungkap Ramos Horta.

Rupanya jurnalis yang dimaksud Horta adalah Suzuki-San dari media massa Nikkei.

Suzuki menulis jika China bukan hanya mau berdagang di Timor Leste namun juga akan menempatkan militernya di sana.

“Timor Leste terletak di titik strategis secara geopolitik, antara Pasifik dan samudra Hindia, dan Australia khawatir China akan meningkatkan kehadirannya di negara itu tidak hanya secara ekonomi tetapi juga secara militer,” tulis Suzuki ketika mengetahui ada kapal perang dari PLA Navy merapat di Dili.

Horta tak terima dengan pernyataan ini dan mengungkapkan jika Timor Leste terbuka dengan siapa saja.

“Pada periode yang sama kami memiliki kunjungan dari banyak kapal perang AS, Australia dan Prancis yang berlabuh di pelabuhan kami. Semua mendapat sambutan hangat. Tidak ada yang luar biasa,” kata Horta.

Baca Juga:  Ajang Pameran Oekusi, Dongkrak Ekonomia dan Hibur Warga

Horta juga membela jika Timor Leste tidak akan kena jebakan utang China jika memang Beijing berniat demikian karena Dili punya pinjaman lebih besar dari Prancis.

“Kontrak terbesar yang pernah ditandatangani oleh perusahaan Timor Leste bukanlah kepada orang China. Tetapi kepada perusahaan Prancis, untuk pelabuhan perairan dalam di Dili yang baru senilai 400 juta dollar AS, dan kepada perusahaan Korea Selatan untuk proyek basis pasokan Suai yang dihargai. dengan 700 juta dollar AS,” jelasnya.

Sekali lagi Horta menilai jurnalis Suzuki-San adalah orang konyol.

“Kita tak usah terlalu mempermasalahkan jurnalis konyol (Suzuki) dan dramatis akademis tentang pengaruh “orang China” di Timor Leste,” tutup Horta. (zonajakarta/timor/gio)

  • Bagikan
error: Content is protected !!