Bertemu Tersangka Pastor Daschback, Xanana Gusmao Dikecam

  • Bagikan

TimorBerita. Dili – Mantan Presiden Timor Leste, Xairala Xanana Gusmao, diduga berupaya memutihkan kejahatan pedofilia yang dilakukan pastor asal Amerika, Richard Daschbach.

Sebab, Zanana menemui pastor Daschbach pada 26 Januari lalu, tepat merayakan ulang tahunnya yang ke-84. Sikap mantan orang nomor satu di negara RDTL menuai kritikan dan kecaman.

Rencananya, jika tak ada halangan, Daschbach akan disidangkan atas kasus pedofilia pada Senin (22/2/ 2021).

Saat ini, pastor Daschbach menjadi tahanan rumah di Dili. Usai ditetapkan sebagai tersangka untuk kasus pelecehan seksual terhadap 14 anak-anak, kepemilikan materi pornografi anak-anak, dan kekerasan domestik.

Baca Juga:  Calon Bupati Malaka Imbau Jaga Kesejukan Jangan Terprofokasi

Dugaan dukungan Gusmao diperkuat video yang beredar di Timor Leste. Gusmao tertangkap kamera memeluk dan menyuapkan kue kepada tersangka pelecahan seksual pertama di Timor Leste itu.

Perlu diketahui, Daschbach memang dikenal flamboyan dan dekat dengan berbagai figur politik.

Ditugaskan ke Timor Leste pada tahun 1967, ia awalnya adalah anggota kelompok Katolik yang berbasis di Chicago, Divine Word. Divine Word sendiri diketahui memiliki 6000 misionaris di 70 negara.

Baca Juga:  Beritakan Timor Leste Kena Jebakan Utang China, Ramos Horta Sebut Jurnalis Konyol

Tahun 1980an, Daschbach mendirikan panti asuhan dan tempat penampungan yang ia namai Topu Honis.

Panti itu dirikan di Oecusse, kawasan terpencil di Timor Leste saat masih menjadi bagian dari Indonesia.

Panti tersebut ia jalankan selama puluhan tahun di mana kemudian mengangkat namanya pada krisis kemerdekaan 1999 karena menampung ratusan anak.

Tahun 2018, citranya jatuh. Seorang perempuan yang pernah menempati pantinya mengirim email ke Vatikan, menyampaikan pengakuannya sebagai korban pelecehan seksual.

Baca Juga:  360 Kendaraan Bodong Gagal Dikirim ke Timor Leste, Polisi Amankan 9 Tersangka

Ketika Daschbach dimintai keterangan, ia mengaku sebagai pedofil dan telah melakukan pelecehan seksual terhadap banyak anak perempuan yang ia tampung.

Oleh Paus Fransiskus, status pastornya kemudian dicabut. Sebab tindakan kejahatan yang dilakukan harus dipertanggung jawabkan secara hukum.

“Ia mengakuinya secara terang-terangan dan menganggap semua itu baik-baik saja karena sudah menjadi kebiasaannya,” ujar Tony Hamilton, salah satu penyandang dana Topu Honis.

  • Bagikan
error: Content is protected !!