Debat Diikuti Satu Paslon Ampera MBD Kupang Kritisi KPU Maluku Barat Daya

  • Bagikan

Timorberita. Kupang-  Asosiasi Mahasiswa Perjuangan Rakyat Maluku Barat Daya (Ampera) Kupang kritisi debat kandidat putaran pertama calon bupati dan wakil bupati Maluku Barat Daya. Pasalnya, Debat yang diselenggarakan bukannya berlangsung di ibu kota Kabupaten tetapi di selenggaran di ibu kota Provinsi Maluku, pada Sabtu 24 Oktober 2020.

Buntutnya, dari 3 paslon Bupati dan Wakil Bupati MBD yang mestinya mengambil bagian dalam Debat terbuka ternyata, dua paslon yakni paket Kalwedo dengan nomor urut 2 dan paket Jodo dengan no urut 3 absen tidak mengambil bagian dalam agenda resmi KPU Maluku Barat Daya (MBD) ini.

Ketua Ampera MBD Kupang Jacson Markus kepada Timorberita.com,Senin (26/10/2020) menilai ketidak hadiran dua paket ini pastinya memiliki alasan-alasan yang dapat dibenarkan oleh pihak penyelenggara. Sebagai ketua organisasi Asosiasi Mahasiswa Perjuangan Rakyat MBD-Kupang memiliki persepsi lain terhadap agenda KPUD.

“Bagi saya kesannya seperti sesuatu yang bersifat formalitas dan hanya menghabiskan anggaran pilkada di kabupaten yang berjualan Kalwedo (MBD), “sebut aktivis GMNI Kupang.

Baca Juga:  Bupati Belu "Santai" Klarifikasi Bantuan Hibah Exafator

Padahal menurut Jacson, Debat Kandidat merupakan salah satu momen untuk bagaimana setiap calon menunjukan kemampuan argumentasi, ide dan gagasan pemaparan visi dan misi untuk membangun MBD selama satu periode kedepan. Baik dalam skala pembangunan jangka pendek,menengah dan panjang. Tapi yang terjadi dalam Debat hanya diikuti satu pasangan calon nomor urut 1, paket Benar.

Mahasiswa Hukum UKAW Kupang itu mengaku kesal lantaran agenda debat yang baru saja selesai di TVRI Maluku ini hanya dihadiri satu pasangan calon yakni Paket Benar. Sedangkan dua paslon lainnya absen tidak hadir. Sehingga masyarakat menilai kegiatan debat tidaklah evektif dan efisien.

Ia juga merasa miris dengan keputusan yang diambil oleh KPUD bahwa debat kandidat calon bupati MBD terselenggara di ibu kota Provinsi Maluku (Ambon).

Baca Juga:  Embung Rusak, DPRD Malaka Minta APH Turun Tangan

Keputusan yang diambil hingga tidak adanya keterlibatan masyarakat MBD untuk menyaksikan proses debat terbuka bahkan sosialisasi pun tidak efektif.
Pertimbangannya ibu kota provinsi di Ambon masih terkonfirmasi sebagai daerah zona merah Covid 19.

“Kita semua tahu bahwa tujuan dari pada pilkada ini bukan hanya untuk meloloskan kepentingan dari beberapa calon tetapi untuk kepentingan semua rakyat MBD,” kritik Jacson.

Menurutnya masyarakat MBD sendiri tidak dilibatkan dalam setiap agenda yang ditetapkan KPU MBD, tentunya menjadi sorotan masyarakat. Salah satunya debat kandidat tetap dilangsungkan di kota Ambon. Sehingga masyarakat berpikir panjang sebelum mengambil keputusan untuk bepergian ke Ambon untuk menyaksikan debat tersebut karena Kota Ambon masuk zona merah Covid 19.

Menurutnya pemberitaan di media sosial terkait Debat pertama yang sudah selesai menjadi ramai diperbincangkan khalayak. Sebab dua paslon yakni paket Kalwedo dan paket Jodo tidak mengabil bagian dalam proses dimaksud.

Baca Juga:  Selamatkan Uang Negara, Bupati Dan Wabup Malaka Patut Diberi Penghargaan

Sehingga debat tidaklah efektif dan efisien karena disitu tidak ada proses saling menanggapi dari setiap pasangan calon kepala daerah karena hanya ada satu calon yang menghadiri kegiatan debat.

Ia berharap KPU Kabupaten MBD perlu mengevaluasi kembali agenda debat perdana yang sudah dipersiapkan jauh hari tetapi tidak berjalan efektif sesuai harapan.

Sebelum memasuki agenda debat kedua, ketiga dan seterusnya, Ampera MBD Kupang meminta KPU Kabupaten MBD agar meninjau kembali keputusan lokasi Debat sebelum memilih ibu kota Provinsi Ambon sebagai tempat diselenggarakanya debat kandidat. Sekaligus menetapkan ibu Kota kabupaten MBD di Tiakur sebagai tempat diadakanya debat berikunya.

Hal ini bertujuan agar sebagian besar masyarakat MBD dapat menyaksikan secara langsung proses debat tersebut karena secara geografis mudah untuk dijangkau,kemudian masyarakat juga tidak menguras energi dan biaya untuk bepergian ke zona merah covid-19 . (Joka)

  • Bagikan