Duit Utangan Timor Leste dari China Ludes : Pelabuhan Dikuasai Beijing, Australia Kena Getahnya

  • Bagikan

Timorberita. Dili – Saat masih menjabat sebagai kepala negara Timor Leste, Xanana Gusmao menasionalisasikan berbagai perusahaan asing di negaranya.

Sebut saja ConocoPhillipis dan Shell sahamnya dibeli oleh Timor Leste senilai 900 juta dolar AS atau senilai Rp 13 triliun.

Ada lagi Osaka Gas dan Woodside Petroleum yang dibeli sahamnya oleh pemerintah Timor Leste.

Timor Leste sendiri mempunyai proyek pembangunan nasional yakni Tasi Mane.

Proyek ini digagas dan dilaksanakan oleh Xanana Gusmao dengan menelan anggaran senilai Rp 263 triliun dengan salah satu proyek terbesarnya ialah pengeboran minyak dan gas di blok berjuluk Greater Sunrise.

Nah, blok tersebut digarap oleh keempat perusahaan di atas dimana saham mayoritasnya sudah dikuasai oleh Timor Leste.

Tapi Timor Leste menasionalisasi perusahaan-perusahaan itu menggunakan dana utangan dari Exim Bank China senilai sama dengan biaya proyek Tasi Mane hingga ludes tak bersisa.

Namun gegara pandemi corona proyek Tasi Mane terutama pengeboran itu dibayangi kegagalan dimana pemerintah Timor Leste terancam merugi besar serta kesulitan membayar utangan dari China.

Baca Juga:  PMKRI Kupang Gelar Webiner Vaksinasi Covid -19 Antara Bencana Atau Berkah

Bahkan saat ini perusahaan China Civil Engineering Construction Corporation sudah mendapat kontrak penggarapan proyek nasional di Timor Leste.

Dilansir zonajakarta.com dari The Australian, Selasa (26/10/2020) situasi ini ternyata membuat Australia khawatir.

Negeri Kangguru bisa kena getahnya jika proyek Tasi Mane diambil alih China.

Peter Jennings selaku Direktur Eksekutif Institut Kebijakan Strategis Australia mengaku khawatir dampaknya akan sampai ke Sydney.

“Timor Leste kini terikat dengan China adalah hal yang menurut saya kebijakan itu akan sangat mengkhawatirkan,” kata Jennings.

“Perhatian Australia akan terpaku pada hubungan Timor Leste dengan China yang bisa mempengaruhi keamanan nasional kami,” katanya.

Sementara itu Menlu Australia Marise Payne sebenarnya setuju dengan kebijakan Timor Leste memperbolehkan asing berinvestasi di Dili.

Tapi dengan syarat perusahaan itu harus transparan dan Timor Leste jangan sampai berhutang.

Baca Juga:  Bertemu Tersangka Pastor Daschback, Xanana Gusmao Dikecam

“Hal tersebut harus transparan, menjunjung standar yang kuat dan menghindari utang yang berkelanjutan.” tegas Payne.

“Australia sedari dulu berkomitmen untuk kemerdekaan, kedaulatan, dan keberlanjutan ekonomi tetangga dekat kami, termasuk Timor Leste.”

“Australia ingin ladang gas dan minyak Greater Sunrise dikembangkan dengan cara yang memaksimalkan manfaat bagi rakyat Timor Leste,” tambah Payne.

Juga pengamat dari Inersitas La Trobe Bec Strating yang sudah memperhatikan perkembangan Timor Leste sedari invasi Indonesia ke Timor Timur tahun 1975 menjelaskan jika pelabuhan di Selatan negara itu sudah dikuasai oleh China.

“Saya menduga Canberra akan prihatin tentang kemungkinan pelabuhan yang dikuasai Beijing di pantai sebekah selatan Timor Leste,” katanya.

Ditambah lagi oleh Pakar Investasi China di Asia-Pasifik Graeme Smith dari Australian National University juga menyayangkan Timor Leste terlalu percaya diri meminjam uang dari China terlalu banyak.

Baca Juga:  Siswi Tidak Disertakan Dalam UAS, Wakil Bupati TTU Langsung Datangi Sekolah

“Biasanya mereka (pengutang) terlalu percaya dan membayarnya akan jauh terlalu banyak ke China,” katanya.

Dikutip dari SCMP, China sendiri memang berambisi memasukan Timor Leste sebagai bagian dari proyek raksasa One Belt One Road (OBOR) dimana akan menghubungkan jalur perdagangan dari Asia ke Eropa.

China menyasar pelabuhan-pelabuhan di Timor Leste karena hal di atas, namun kunjungan kapal perang PLA Navy ke pelabuhan Dili membuat Australia khawatir.

Pasalnya Timor Leste disinyalir akan kesulitan membayar utang dimana operasional pelabuhannya akan dikendalikan oleh China layaknya yang terjadi di Sri Lanka.

Kekhawatiran Australia berdasar lantaran jika operasional pelabuhan sepenuhnya diambil alih oleh Beijing maka China dapat menempatkan kapal perangnya dan jarak antara Darwin dengan pelabuhan Dili Timor Leste cuma 500 km. Sebuah radius tempur yang dengan mudah dicapai oleh pesawat pembom nuklir Xian H-6 PLA Navy. (zonajakarta/timor/gio)

  • Bagikan