Francisco Menggebrak Dari Negeri Abraham Pesan Damai dari Irak

  • Bagikan

DI MANA perjalanan perdamaian dimulai? Dari keputusan untuk tidak memiliki musuh. Siapapun yang percaya pada Tuhan, tidak memiliki musuh untuk dilawan. Dia hanya memiliki satu musuh untuk dihadapi, musuh yang berdiri di depan pintu hati dan mengetuk untuk masuk yaitu kebencian.”

Paus Fransiskus

Fransiskus adalah sebuah fenomena dunia. Saat Irak masih menjadi wilayah yang menakutkan akibat perang yang tak berkesudahan, saat Corona masih menyebarkan ancaman ke mana-mana dengan segala akibat ikutannya, ketika Nyanmar masih bergejolak karena Kudeta Militer, saat di belahan dunia lain rentetan tragedi masih tetap berlangsung; awal Maret ini (5-8 Maret) Francisco menghentak dan menggugah dunia.

Dari Mosul, tempat di mana ISIS dulu bersumpah dan memproklamirkan akan menaklukan Roma dan memenggal kepala Paus, Fransiskus berdiri dan berseru pada dunia tentang persaudaraan dan perdamaian dunia.

Dia melakukan perjalanan ziarah perdamaian, sesuai istilahnya sendiri untuk melukiskan kunjungan dan lawatan Apostolik ke wilayah konflik, negeri bapak Abraham, tanah Mesopotamia, Irak.

Ini akan menjadi sejarah dunia, secara khusus sejarah Gereja Katolik sebagai Paus pertama yang menginjakkan kakinya di tanah Irak. Mengapa Irak, negeri konflik yang sempat porak poranda dikuasai ISIS, sebuah tanah bersejarah yang selalu disebut namanya dalam Alkitab setelah Israel menjadi pilihan perdana Paus Fransiskus di tahun 2021 ini sebagai awal perjalanan apostoliknya?

Baca Juga:  Sebuah Catatan untuk Penanganan Covid- 19

Mengapa bapak Paus Fransiskus mengabaikan segala resiko baik keamanan maupun kesehatan untuk melakukan lawatan penuh resiko ini? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini menurut penulis termuat dalam pidato-pidato, doa-doa dan kotbah-kotbahnya selama lawatan empat (4) hari di Irak.
Setelah peperangan dengan tetangganya Iran, Irak menjadi negara yang damai. Kekuatan Irak adalah persatuan.

Tidak pernah terjadi konflik SARA kecuali sebuah kelompok separatis etnis Kurdi yang berkeyakian Islam Syiah. Tetapi oleh Saddam Hussein, pemimpin Irak saat itu yang bermahzab Sunni, kelompok separatis yang bermahzab Syiah itu tidak pernah diganggu apalagi disingkirkan.

Namun oleh tangan-tangan jahil (proxy Internasional) demi merampas dan menguasai Sumber Daya Alam Migas (Petro Dolar) Irak yang melimpah; dipecahlah kerukunan hidup masyarakat di Irak. Dialog antar-golongan dihapus! Perbedaan-perbedaan antara Syiah dan Sunni diperuncing. Masyarakat Irak dipolarisasi karena suku, agama, ras dan antar golongan. Al Qaedah, kelompok ekstrimis yang lahir di Afganistan beranak haram ISIS sudah eksis dan kuat di Irak.

Baca Juga:  Sebuah Catatan untuk Penanganan Covid- 19

ISIS dimanfaatkan oleh ‘tangan-tangan jahil’ dari luar untuk memporak-porandakan Irak. Perang tidak berskala sekte lagi tetapi berskala global dan ingin menguasai dunia lewat kekerasan. Negeri Mesopotamia yang indah dan damai ini menjadi negara pusat konflik terbesar abad ini. Irak menjadi episentrum pertarungan politik dan ekonomi Barat vs Timur Tengah.

Setelah diinvasi negeri Paman Sam pada tahun 2003, hancur leburlah Irak, salah satu pusat peradaban dunia di mana lahir bapak Abraham, bapaknya agama-agama Samawi (Yahudi, Kristen dan Islam).

Saat berbicara di depan para otoritas pemerintah Irak di Aula Istana Kepresidenan di Baghdad, Paus Fransiskus dengan tegas dan lantang berseru bahwa agama pada dasarnya harus melayani perdamaian dan persaudaraan. “Nama Tuhan tidak dapat digunakan untuk membenarkan tindakan pembunuhan, pengasingan, terorisme dan penindasan.

Sebaliknya, Tuhan yang menciptakan manusia dengan martabat dan hak yang setara, memamnggil kita untuk menyebarkan nilai-nilai cinta, niat baik dan kerukunan”. Bapa Suci menyerukan dan memohon untuk mengakhiri kekerasan dan ekstremisme serta konflik berkepanjangan yang menyebabkan pertumpahan darah dan kehilangan nyawa.

Secara singkat, Paus Fransiskus ingin berpesan kepada dunia, agama bukan untuk membenci! Salah satu tujuan beragama adalah untuk kemanusiaan. Agama yang bebeda-beda itu cumalah jalan namun memiliki tujuan yang tunggal yaitu kemanusiaan. Agama yang beragam itu mempunyai nilai universalitas yaitu kemanusiaan dan perdamaian. Kekerasan apapun atas nama agama adalah kejahatan dan terkutuk!

Baca Juga:  Sebuah Catatan untuk Penanganan Covid- 19

Dia menggertak tapi tetapi tidak dengan suara yang menggelegar. Karena itu Paus Fransiskus menjuluki dirinya sebagai peziarah perdamaian demi persaudaraan dan rekonsiliasi.

“Dan saya datang di antara kalian sebagai peziarah perdamaian, kalian bersaudara. Ya, saya datang sebagai peziarah perdamaian untuk mencari persaudaraan, yang digerakkan oleh keinginan untuk berdoa bersama dan berjalan bersama juga dengan saudara dan saudari dari tradisi agama lain, di bawah semboyan Bapa kita Abraham, yang mempersatukan umat Muslim, Yahudi dan Kristen dalam satu keluarga.”

“Marilah kita tegaskan bahwa Tuhan itu penyayang dan bahwa penghujatan terbesar adalah mencemarkan nama-Nya dengan membenci saudara-saudari kita. Permusuhan, ekstremisme, dan kekerasan tidak lahir dari hati yang religius: itu adalah pengkhianatan terhadap agama. Kita orang beriman tidak bisa diam ketika terorisme melanggar agama; memang kita dipanggil dengan jelas untuk menghilangkan semua kesalahpahaman. Janganlah kita membiarkan terang surga dibayangi oleh awan kebencian!”

  • Bagikan