Francisco Menggebrak Dari Negeri Abraham Pesan Damai dari Irak

  • Bagikan

Harus diakui bahwa agama pada saat tertentu menampilkan dua wajah yang ambivalen dan sangat paradoksal. Agama tidak hanya menjadi integrative factor tetapi juga menjelma menjadi diistegrative factor.

John Naisbitt dan Patricia Aburdens dalam buku Megatrend 2000 dengan jelas mencatat bahwa salah satu kecenderungan milenium ini adalah kebangkitan agama. Bahwa sedang terjadi kebangkitan agama di ambang milenium ketiga karena ada keyakinan bahwa agama adalah salah satu problem solving untuk menghadapi kehidupan dengan segala problemnya tetapi juga menjadi the source of the problem.

Pada satu sisi agama menjadi jalur manusia mendekatkan diri kepada Tuhan, Sang Pencipta, sebagai sumber moral dan etika, melayani perdamaian dan persaudaraan. Agama seharusnya melahirkan spirit kebersamaan. Agama adalah jalan kesunyian menuju kedamaian, persaudaraan, solidaritas.

Menurut I Bambang Sugiharto (Wajah Baru Etika dan Agama: Kanisius, 2000) agama adalah sumber energi dashyat yang mampu membebaskan manusia menuju tingkat martabat kemanusiaannya yang tertinggi.

Fakta sejarah mencatat bahwa peradaban-peradaban besar memang lahir dari agama. Entah sadar atau tidak, modernitas bahkan dilahirkan oleh agama walau kemudian paradigma modern berkembang pesat justru dengan melepaskan cengkraman otoritas agama dari kehidupan.

Baca Juga:  Pemeriksaan Para Kades Selesai Tepat Waktu

Di lain sisi, sering kali agama menciptakan jarak karena aliran-aliran perbedaan itu. Agama menjadi ajang saling membantai, sumber perpecahan dan konflik antar manusia. Agama menjadi Levithian Hobbesian. Bahwa keadaan alamiah manusia itu penuh dengan situasi yang kacau dan horror kematian. Pada dasarnya manusia adalah penumpah darah, suka berperang, gemar melakukan kerusakan. Manusia adalah serigala bagi manusia yang lainnya (homo homini lupus), agama yang satu menjadi serigala bagi agama yang lain.

Pandangan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang ganas, perusak dan saling menumpahkan darah, sebenarnya juga ada dalam teologi agama-agama samawi – Yahudi Kristen dan Muslim. Agama menjadi salah satu faktor meluasnya narsisme kelompok yaitu sentimentalisme primordial kelompok. Bahaya dari sentimentalisme adalah kecenderungan ke arah totaliterisme. Agama justru menjadi pemicu naluri destruktif, infantilisme dan primitivisme.

Baca Juga:  Direktur SKM Tidak Hadir Mediasi Awal BAP Ditunda

Sejarah dunia mencatat banyak negara hancur akibat ‘mabuk agama’, terjadi kekerasan atas nama agama, tercabik-cabik konflik sektarian. Sebut saja Indonesia, Syria, India, Pakistan dan tentu masih ada negara yang sering bergejolak karena persoalan agama. Perancis sebuah negara Eropa yang begitu maju dan modern hampir saja menjadi pelecut Perang Dunia dan bahkan terjadi boikot seluruh dunia gara-gara hoax oleh seorang gadis soal agama (kartun Nabi Muhammad) tahun lalu (2020).

Melihat fakta-fakta dunia saat ini yang diakibatkan oleh ‘api’ yang dikandung dalam agama, Paus Fransiskus tergerak. Ia mengabaikan segala ancaman, rintangan, ia melintasi batas, menerobos sekat-sekat itu dengan satu tujuan; perdamaian dan persaudaraan. Paus berikhtiar, anak-anak Sang Khalik yang tercerai-berai harus disatukan dalam nada yang sama yaitu perdamaian dan persaudaraan. Tak ada agama yang mengajarkan perang. Tak ada agama yang mendidik untuk bermusuhan apalagi membunuh.

Baca Juga:  Kapolres Belu Lantik Pejabat Baru Kapolsek Tasbar dan Raihat

Agama harus mampu tampil sungguh-sunguh sebagai pembela kehidupan, kebebasan dan kemanusiaan global. Hanya dengan jalan ini agama dapat efektif memicu peradaban untuk semakin memperjuangkan pembebasan manusia menuju puncak harkat dan martabatnya.

Paus Fransiskus berkomitmen untuk mengikuti jejak dan teladan Santo pelindungnya Fransiskus Asisi. Kita ini bersaudara, kalau bukan saudara seiman adalah saudara sesama manusia. Damai itu indah. “Terserah kita, umat manusia hari ini, terutama kita penganut semua agama untuk mengubah instrumen kebencian mmenjadi instrumen perdamaian.

Jika Tuhan adalah Tuhan yang mencintai dan memang Dialah itu, tentunya salah jika membenci saudara kita. Hari ini, bagaimanapun, kita menguatkan kembali keyakinan kita bahwa persaudaraan lebih tahan lama daripada pembunuhan sesama saudara, bahwa harapan lebih kuat daripada kebencian, bahwa perdamaian lebih kuat daripada perang”!

Inilah saatnya adigium kuno Bila ingin berdamai, bersiaplah untuk berperang harus diganti menjadi Bila ingin berdamai, bersiaplah untuk bersaudara!

*Penulis adalah seorang pegiat Sosial

  • Bagikan