Jaksa Tuntut 10 Tahun, Terdakwa Muhamad Ruslan Mohon Bebas

  • Bagikan

TimorBerita. Kupang – Terdakwa Muhamad Ruslan memohon dibebaskan dari tuntutan kasus dugaan korupsi kredit modal usaha dan kredit jangka panjang pada Bank NTT Cabang Surabaya Tahun 2018.

Dalam kasus ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut 10 tahun hukuman kurungan.

Permohonan terdakwa disampaikan dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor Kupang, Senin (16/11/2020).

Sidang dengan agendakan pembacaan nota pembelaan (pledoi) oleh kuasa hukum terdakwa Philipus Fernandes.

Dalam amar pembelaan melalui kuasa hukum tetdakwa, meminta majelis hakim yang mengadili dan memutuskan perkara ini agar menyatakan bahwa terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi.

Sehingga kliennya terdakwa Muhamad Ruslan dibebaskan dari segala tuntutan hukuman, merahabilitasi harkat dan martabat terdakwa.

Dalam nota pembelaan terdakwa meminta agar majelis hakim menerima nota pembelaan terdakwa melalui kuasa hukumnya.

Dan memberikan putusan yang seadil – adilnya dan memohon keringanan hukuman atas perbuatan terdakwa.

Kuasa hukum terdakwa, Philipus menuturkan terkait dengan uang yang disita dari rekening terdakwa senilai Rp 9, 5 miliar.

Baca Juga:  Hakim Vonis 10 Tahun Jeruji Untuk Mantan Kepala Cabang Bank NTT Surabaya

Sehingga terjadi selisih yang dipakai oleh terdakwa senilai Rp 2, 5 miliar. Untuk itu, uang senilai Rp 7 miliar dikembalikan kepada terdakwa.

Terkait dengan uang tunai yang diambil oleh terdakwa dan dibantu oleh Didakus Leba hanya sebesar Rp 3 miliar.

Kemudian terdakwa melakukan transfer ke rekening giro CV. Norita Arstiktika sebesar Rp 1, 5 miliar.

Dengan tujuan sebagai dana cadangan untuk pembayaran angsuran kredit dan dana sebesar Rp 500 juta ditarik oleh terdakwa Stefanus Sulayman.

Menurut Philipus berdasarkan fakta persidangan, terdakwa sejak awal tidak terlibat sama sekali dalam pembentukan perusahaan yang bernama UD. Makmur Jaya Prima.

Berdasarkan fakta persidangan dari keterangan saksi Didakus Leba, Bong Bong Suharso, Radica Meirani, Agus Sugianto, Umbu Ndakuna dan Gratia Imanuel Lapudooh terungkap bahwa perusahaan UD. Makmur Jaya Prima merupakan perusahaan milik Stefanus Sulayman.

Sidang lanjutan ini yang berlangsung di Pengadilan Tipikor Kupang dipimpin majelis hakim, Dju Jhonson Mira Mangngi didampingi hakim anggota, Ari Prabowo dan Ali Muhtarom.

Baca Juga:  Mantan Kepala Cabang Bank NTT Surabaya Dituntut 7 Tahun Penjara

Turut hadir JPU, Herry C. Franklin dan Emerensiana Jehamat. sedangkan kuasa hukum terdakwa Muhamad Ruslan dihadiri Philipus Fernandes.

Sebelumnya, terdaka Muhamad Ruslan dituntut selama 10 Tahun penjara. Selain pidana badan selama 10 tahun, terdakwa juga diwajibkan untuk membayar denda sebesar Rp 750 juta subsidair 6 bulan kurungan.

Terdakwa dituntut selama 10 tahun penjara karena dinilai telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diatur dan diancam dalam pasalĀ  2 ayat (1) Jo Pasal 18 Undang – Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sebagaimana telah diubah dengan Undang – Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang – Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke – 1 KUHPidana.

Sedangkan menurut JPU, terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi pasal 3 ayat (1) Jo Pasal 18 Undang – Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Baca Juga:  Bandara Kabir Alor Diresmikan, Maret Penerbangan Kupang Pantar

Sebagaimana telah diubah dengan Undang – Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang – Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke – 1 KUHPidana.

Menurut JPU, dalam perkara ini ada dua alasan dalam penuntutan yakni hal – hal yang memberatkan seperti terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas korupsi.

Sedangkan hal – hal yang meringankan adalah terdakwa bersikap sopan selama persidangan dan terdakwa juga mengakui dan menyesali seluruh perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Terdakwa juga diwajibkan untuk membayar uang pengganti kerugian keuangan negara sebesar Rp 9. 050. 000. 000 kepada negara cq Bank NTT Cabang Surabaya.

Rincian perhitungan dari uang sitaan sebesar Rp 9. 509. 924. 588 dan sisanya sejumlah Rp 459. 924. 588 dikembalikan kepada terdakwa Muhamad Ruslan. (RL/ Gio)

  • Bagikan