Karyawan Sawit Asal NTT Tebas Istri, Dua Orang Anaknya dan Ipar Hingga Tewas

  • Bagikan

MERAUKE, Timorberita.com–Peristiwa pembunuhan satu keluarga kembali terjadi di kampung Muting distrik Ulilin Kabupaten Merauke provinsi Papua.

Peristiwa naas itu terjadi di perkebunan kelapa sawit barak karyawan Divisi IIIV PT. Bio Inti Aggrindo Distrik Ulilin, pada Selasa (22/9/2020) dini hari sekira pukul 04.30 wita.

Seorang suami nekat bunuh satu keluarga yakni isteri, dua anak kandung dan sepupu istri. Pembunuhan dilakukan karena pelaku kesal lantaran korban istri menuduhnya tukang suanggi atau santet.

Sang pelaku Ambrosius Oematan, suku NTT asal Kapan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Kini polisi sudah mengamankan pelaku pembunuhan di polsek Muting Merauke.

Kapolres Merauke AKBP Ary Purwanto Sik, dalam keterangan pers Selasa malam menjelaskan kronologis kasus tindak pidana pembunuhan itu menghebohkan warga setempat.  Pelaku inisial AO pekerja sawit, asal suku Nusa Tenggara Timur (NTT).

Baca Juga:  Covid Belu 23 Kasus Baru, Kluster TNI Kavaleri Markas Lelowai

Ary menjelaskan lokasi tempat kejadian perkara (TKP) di barak karyawan Divisi IIIV PT. Bio Inti Aggrindo, Distrik Ulilin Selasa (22/9/2020) dini hari sekira pukul 0 4.30 wita.

Awalnya, malam sebelum terjadi peristiwa pembunuhan itu sempat terjadi pertengkaran antara pelaku AO dengan istri SK. Gegara pelaku dituduh sering melakukan suanggi praktek ilmu hitam.
“Sempat terjadi pertengkaran saat malamnya namun tidak terjadi. Saat pagi subuh kembali terjadi pertengkaran. Ada juga ET sepupu dari isteri pelaku,” tandasnya.

Lanjut Budy saat terjadi pertengkaran dini hari pelaku langsung menebas tubuh korban ET menggunakan parang dan korban ditusuk berkali kali menggunakan dodol sejenis pisau yang biasa di gunakan mencungkil kelapa sawit. Korban ET jatuh terkapar dan meninggal.

Sedangkan SK istri pelaku, yang saat itu menggendong KO anaknya mencoba kabur melalui pintu belakang. Tetapi pelaku brutal menebas lagi isteri dan anaknya yang saat itu sedang digendong. Bahkan istri pelaku yang tewas ini sedang hamil 8 bulan.

Baca Juga:  Panggung Para Penipu di Tanah Kering Kerontong

Kapolres Ary merincikan terkait kasus pembunuhan ini korban yang meninggal pertama ET sepupu dari istrinya, korban kedua SK istri pelaku dan KO anaknya pelaku. Termasuk istri SK sedang hamil 8 bulan.
“Ada tiga korban dan satu bayi dalam kandungan dari istri pelaku,” tandasnya.

Dikatakan pelaku setelah melakukan tindakan kejinya sempat melawan keluarga dan tetangga yang saat itu hendak mendekat di lokasi TKP. Saat anggota Pospol Muting tiba di lokasi pelaku pun masih melawan berlindung dalam barak memegang senjata tajam parang dan dodol.

Upaya negosiasi berlangsung dua jam lebih itu pun tidak berhasil. Pelaku tidak menyerah sehingga anggota melakukan upaya paksa dengan cara melumpuhkan pelaku. Setelah terjatuh pelaku berhasil diringkus dan di giring ke Polsek setempat.

Baca Juga:  Politik Dikambing Hitamkan, Menjadi Momok Masyarakat

“Saat pelaku berhasil diringkus sempat terjadi keributan karena keluarga dari korban marah. Nyaris terjadi amukan massal oleh masyarakat sekitar. Namun anggota berhasil meredam amarah warga,”sebutnya.

Dikatakan, pelaku dan barang bukti sudah diamankan di Polsek Muting dan kasusnya ditarik ke Polres Merauke. Semua penyidikan diambil alih  Satreskrim Polres Merauke.

Pelaku dikenakan ancaman pidana pasal 338 KUHP subsider pasal 351 ayat 3 penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal. Pasal primer ancaman hukuman maksimal 15 tahun subsider  7 tahun penjara.

“Kita masih lakukan penyidikan. Masih menggali apakah pembunuhan berencana atau tidak. Nanti akan kita sampaikan perkembangannya,” tandas Kapolres Merauke ini. (Guntur/ Gio)

  • Bagikan