Kasus Pemukulan Frater Top Sudah Damai, Proses Hukum Tetap Lanjut

  • Bagikan

TimorBerita. Betun – Kasus pemukulan terhadap Frater Emanuel B.M di Dusun Meta Mauk, Desa Alas Selatan, Kecamatan Kobalima Timur, Kabupaten Malaka, sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Meski kedua pihak saling memaafkan, namun proses hukum tetap berlanjut sehingga menjadi efek jerah.

” Ini kasus terjadi sejak pertengahan November lalu. Kami sudah berdamai saling memaafkan. Tetapi proses hukum tetap berjalan biar jadi pembelajaran,” ujar Fr. Emanuel BM, Minggu (14/2/2021).

Ia mengaku kesal terhadap informasi terkait peristiwa pemukulan yang dialaminya karena tidak sesuai fakta. Sebab pelaku yang memukulinya adalah benar Riko.


Bahkan Andre rekannya, juga jadi korban saat hendak melerai. Selain itu kehadirannya di acara itu menggunakan celana panjang dan duduk bersama orang tua. Bukan duduk bersama Riko dan rekannya seperti informasi media.

” Saya tau etika. Tidak mungkin saya di acara itu pakai celana pendek. Itu tidak benar. Saya di situ juga duduk dengan orang tua bukan dengan Riko dan kawan2nya,” ucap Emanuel.

Ia menuturkan peristiwa itu terjadi pada Kamis 12 November 2010 lalu. Saat itu sekira pukul 18.00 wita, dirinya hendak kembali dari acara nikah. Saat di depan rumah berpapasan dengan pelaku dan menanyakan status dan alamat tinggal. Pertanyaan itu menjadi pemicu hingga terjadi aksi keributan. Dirinya dimaki dan dikejar sejumlah pemuda.

Baca Juga:  Begini Pengakuan Wawali Kota Kupang Dihadapan Majelis Hakim Tipikor

” Waktu itu sekitar magrib, acara sudah bubar. Saya sama teman Andre tunggu motor di depan jalan raya. Lalu si Riko muncul dan tanya bilang ini frater kah. Saya jawab ia saya frater Top di Alas,” kisah Emanuel.

Saat itu lanjutnya, pelaku Riko sempat keluarkan makian sehingga Andre rekannya sempat tegur. Tetapi tidak digubris. Berulangkali tanya identitasnya, hingga masuk kembali ke dalam rumah untuk menanyakan kepada pengantin, terkait identitas statusnya.

” Pengantin laki-laki namanya Maksi, kasih tau bilang benar ini frater yang kasih komuni berkat misa di gereja tadi,” kisah Frater.

Ironisnya Riko tak menggubris penjelasan pengantin sehingga kembali keluarkan makian. Bahkan suara tinggi, dan sempat memukul dan menengnya. Tetapi ditahan Andre.

Bersamaan sekitar belasan orang muncul dari arah belakang yang dikenalnya temannya Riko. Lantaran takut dikeroyok sehingga terpaksa ia menghindar dan lari jauh.

” Saya takut sehingga lari karena ada yang muncul dari belakang. Saya punya celana sobek, kaki dan tangan luka, sepatu juga terlepas,” ujarnya.

Baca Juga:  Bupati dan Wabup Belu "Duduk Melingkar" Bersama Jurnalis Perbatasan RI-RDTL

Ia menuturkan informasi pun menyebar sehingga datanglah pastor pembantu, menuju rumah Riko untuk mengklarifikasi terkait peristiwa itu. Tetapi Riko tidak dirumahnya karena usai kejadian sempat di bonceng rekannya menuju arah batas. Tak puas akhirnya melaporkan peristiwa yang dialami ke Polsek Kobalima.

” Saat pater tiba sempat ke rumah riko untuk klarifikasi. Tetapi tidak ketemu Riko. Sehingga kami terpaksa lapor ke Polisi,” ujar Fr Emanuel.

Ia menambahkan tindakan Riko itu juga tidak diterima sehingga Paulus Bau sebagai orang tua pengantin, bersama Yosep Loe, memberikan ajaran kepada Riko yang juga adalah keluarga dekatnya. Sehingga tidak benar dibilang pelaku kedua orang tua itu.

Sementara Pastor Paroki Alas, Pater Jhon Napan mengaku kesal terhadap peristiwa yang terjadi itu. Mesti peristiwa itu tidak perlu terjadi apalagi kekerasan itu dialami seorang Frater yang sedang menjalani orientasi Top.

Ia berharap kasus cepat diselesaikan di persidangan sehingga ada kepastian hukum dan menjadi pembelajaran untuk orang lain.

” Kejadian itu banyak saksi mata yang lihat. Sehingga kita serahkan saja untuk proses hukum. Siapa benar dan siapa yang salah sehingga jadi pembelajaran. Sehingga tidak terjadi lagi tindakan semacam ini,” ujarnya.

Baca Juga:  Paket Sehati Bangun Belu Dengan Sentuhan Lima Program Unggulan

Lanjut Pater, saat itu sempat memukul Riko karena sebagai orang tua dan pastor tua sangat kesal sehingga mengajari pelaku. Alasannya tindakannya salah dan mestinya usai melakukan kekerasan hadir untuk diselesaikan bukannya menghilang sehingga harus di cari Polisi.

” Saya kenal Riko karena sebelumnya tinggal di asrama. Saya sempat tampeleng karena kesal maki dan pukul Frater Top. Bayangkan mobil pastor juga di kasih gembos,” kesal Pater John.

Ia menambahkan aksi yang dilakukan Riko dan kawan-kawan karena alasan Frater Top sebagai warga baru sehingga menanyakan identitasnya. Tetapi mestinya terhadap siapa pun tidak boleh dengan cara perlakuan seperti itu. Sebab hidup harus berdamai dan bersahaja dengan semua orang. Bukan dengan cara bermusuhan.

“Mereka lihat Frater muka baru jadi tidak kenal. Nah saya punya Frater ini DPO kah sehingga harus di tanya dan dipukuli. Saya pastor tua dan saya marah itu. Sehingga saya sempat tampeleng itu kakaknya karena saat mau berdamai tetapi maki lagi pastor pembantu,” kesal Pater. (Vic/06-Red)

Editor Giovanni Elias

  • Bagikan
error: Content is protected !!