Kasus Penganiayaan di SP3, IMATTU Kesal Pelaku Oknum Polisi

  • Bagikan

TimorBerita.Kupang – Organisasi Ikatan Mahasiswa Timor Tengah Utara (IMATTU) Kupang menilai Penyidik Polres Timor Tengah Utara (TTU) tidak serius menangani kasus penganiayaan terhadap Eduardus Fouk (17) warga Desa Kota Foun, Kecamatan Biboki Anleu.

Ketua Umum IMATTU Kupang, Antonius Uspupu kepada wartawan Sabtu (28/11/2020) menuding penanganan kasus penganiayaan terhadap korban Eduardus syarat kepentingan.

Sebab kasus salah tangkap yang berujung penganiayaan dan pengeroyokan melibatkan oknum anggota Polisi. Sehingga penyidik tidak berani proses hingga tuntas.

Menurutnya sudah diprediksi sejak awal kasus yang menimpa siswa pelajar SMA ini bakal tidak ditangani profesional.

Terbukti saat ini tidak lagi dilanjutkan karena polisi sudah menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) dengan alasan kurang bukti.

“Polisi menerbitkan SP3 alasannya kurang alat bukti. Ini sebuah pengangkangan proses hukum.

Baca Juga:  Coret Warga Penerima Dana BLT, Kades Alas Malaka Dipolisikan

Bagaimana polisi yang salah tangkap dan aniaya lalu bilang kurang bukti,” ujar aktifis PMKRI Cabang Kupang ini.

Menurut Toni pangilan akrab Antonius, sudah diatur dalam Keputusan Bersama Mahkamah Agung, Menteri Kehakiman, Kejaksaan Agung, dan Kapolri No. 08/KMA/1984, No. M.02-KP.10.06 Tahun 1984, No. KEP-076/J.A/3/1984, No. Pol KEP/04/III/1984.

Tentang Peningkatan Koordinasi dalam Penanganan Perkara Pidana, (Mahkejapol) dan Peraturan Kapolri No. Pol. Skep/1205/IX/2000 tentang,
Pedoman Administrasi Penyidikan Tindak Pidana.

Di mana diatur bahwa bukti permulaan cukup merupakan alat bukti untuk menduga adanya suatu tindak pidana.

Dengan mensyaratkan minimal satu laporan polisi ditambah dengan satu alat bukti yang sah sebagaimana diatur dalam Pasal 184 KUHAP.

Menurut Toni berdasarkan Pasal 184 (1) KUHAP tersebut yang dimaksud dengan alat bukti adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, keterangan terdakwa.

Baca Juga:  Nain Liurai Malaka Ajak Masyarakat Pilih Simon Nahak Kim Taolin

Padahal lanjut Toni polisi sudah mengantongi beberapa alat bukti baik keterangan saksi anak korban, saksi Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan saksi lainnya.


Keterangan para saksi dan korban sesuai satu dengan lainnya. Juga bukti visum, sesuai dengan Iuka pada korban. Ditambah barang bukti berupa kayu pikulan dan ranting kayu yang digunakan untuk memukul korban.

Toni menilai, kasus tersebut justru akan membuat masyarakat menilai Polisi, tebang pilih dalam penegakan hukum dan mengangkangi proses hukum.

“Sejumlah bukti itu apakah ini bukan bentuk kekerasan dan penaniayaan,” ujar Toni.

Ia berharap kasus terhadap masyarakat kecil diusut tuntas sehingga tidak ada lagi korban lain. Sebab bukan pertimbangan anggota Polisi sehingga kasusnya di SP3 karena alasan tidak cukup bukti.

Sebelumnya diberitakan, Eduardus Fouk (17) siswa kelas 1 SMA Negeri 2 Atambua melapor ke Polres Timor Tengah Utara (TTU), Senin (27/4/2020) malam.

Baca Juga:  Petir Sambar Tujuh Warga Kupang Satu TTU

Ia terpaksa mengadu karena menjadi korban salah tangkap. Dikeroyok hingga babak belur oleh 5 anggota Polsek Biboki Anleu, pada Minggu 26 April 2020 sekitar pukul 02.00 dini hari.

Akibat penganiayaan oknum anggota Polisi, korban mengalami trauma berat. Akibat pukulan beruntun di bagian rusuk kiri, kanan menggunakan popor pistol.

Todongan pistol berulang kali yang dilakukan oknum anggota polisi ke wajah korban tentu membuat takut dan trauma.

Korban Eduardus berdomisili di Dusun III, Desa Kota Foun, Kecamatan Biboki Anleu Kabupaten TTU.

KOrban sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 2 Atambua. Korban dianiaya saat berlibur di kampung halamannya di Kota Foun akibat pandemi Covid-19. (Joka)

  • Bagikan
error: Content is protected !!