Manfaatkan Sisa Hujan, Anggota DPRD TTU Buat Terobosan Kembangkan Padi Ladang

  • Bagikan

TimorBerita.Kefamenanu|| Anggota DPRD Timor Tengah Utara (TTU) dari Fraksi Partai Gerindra, Landelinus Kono Meta ternyata diam-diam membuat sebuah gebrakan baru.

Ia memanfaatkan sisa musim hujan untuk mengembangkan padi ladang jenis gogo di musim tanam kedua. Lokasi pengembangan dimulai perdana di desa Bijaepasu, Kecamatan Miomaffo Tengah.

Anggota Fraksi Gerindra memulai pola baru ini dengan “menggandeng” 4 investor dari Jakarta dan seorang profesor pertanian dari ITB Bandung.

Kono Meta saat ditemui di lokasi pengembangan padi Gogo, Selasa (13/4/2021) menjelaskan, pengembangan jenis padi Gogo ini sangat cocok untuk memanfaatkan sisa air hujan di awal musim panas dengan menggunakan teknologi polimer.

Ia optimis usaha pengembangan ladang padi jenis Gogo di lahan kering dan di awal musim panas ini akan berhasil menambah penghasilan produksi para petani.

Baca Juga:  Kepala Desa Adat Tamkesi Mengundurkan Diri, Masyarakat Datangi DPRD TTU

” Biasanya petani ladang kita hanya satu kali tanam saja. Sehingga kita rubah dengan pola baru ini, bisa dua kali tanam. Kita sangat optimis dengan pola ini akan berhasil apalagi dalam pengembangan usaha ini kami didukung seorang profesor dari ITB,” tegas Kono Meta ditemani Ketua Fraksi Gerindra DPRD TTU, Fabianus One Alisiono.

Anggota DPRD TTU Daerah Pemilihan IV ini mengatakan, selain didukung investor dari Jakarta pihaknya juga mendapat dukungan penuh dari Ketua DPD Partai Gerakan Indonesia Raya NTT, Ir.Esthon Funay.

Ketika ditanya apakah usaha ini akan dikembangkan di desa lain, Kono Meta dengan taktis menjawab, lahan 4 ha yang sedang dilakukan penanamsn ini adalah lahan percontohan, bila hasilnya memuaskan maka tahun akan dikembangkan di sejumlah desa.

Baca Juga:  Sah, Dionisius Ulan Ganti Amandus Nahas, Ini Pesannya

Bahkan menurut Kono Meta, apabila mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah daerah baik kabupaten atau provinsi pihaknya siap untuk bergandengan tangan untuk dikembangkan di seluruh wilayah TTU.

Pasalnya menurut dia, semua desa di TTU sangat potensial untuk pengembangan padi Gogo ini, karena di akhir musim hujan semua ladang menjadi lahan tidur.

Sementara Prof. Djunaidi Anggota tim ketahanan pangan yang direkrut oleh Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto, di temui di lokasi kesiapan lahan pertanian menjelaskan, tanaman padi Gogo ini berumur 91 hari.

Ia menambahkan pengembangan produksi padi ladang jenis Gogo sangat cocok dibudidaya di akhir musim hujan. Lokasi lahannya sangat cocok untuk pengembangan budi daya tanaman gogo.

Baca Juga:  DPRD TTU Kembali Pertanyakan Nasib PTT, Pemda Dinilai Gagal

” Jadi setelah penanaman padi akan diikuti pengembangan tanaman ubi jalar jenis Cilembu di lahan seluas 4 ha pada lahan yang sama,” tandasnya.

Cuma tahu, disaksikan media ini di lokasi pengembangan desa Bijaepasu, pengolahan tanah seluas 4 ha menggunakan alat berat excavator. Penanaman menggunakan sistim tunggal, dimana setiap lubang diisi polimer lalu ditutupi sedikit tanah lalu diisi benih padi sebanyak 3 atau 4 buah.

Dengan teknologi polimer akan menampung air sehingga jika dalam masa pertumbuhan hanya memanfaafkan embun pagi pun dipastikan padi tidak mengalami kegagalan.Sistim ini hasil produksi rata-rata mencapai 5-7 ton per hektare. (ReyDk)

  • Bagikan