Oknum Pendukung Paslon Ancam Ketua KPU Malaka, Berujung di Polisi

  • Bagikan

TimorBerita. Betun –Kisah tak sedap Pilkada serentak lagi lagi datang dari Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dua oknum pemuda asal Weoe Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka, terpaksa harus berurusan dengan Polisi. Keduanya diduga menghambat dan mengancam keselamatan penyelenggara Pilkada saat berlangsungnya kampanye.

Dua oknum yakni SAB dan AK diduga pendukung Paslon Stef Bria Seran -Wendelinus Taolin paket SBS-WT. Sebab saat kejadian di lokasi menggunakan atribut partai pendukung dari paslon bupati dan wakil bupati ini.

Kepada wartawan Ketua KPU Malaka Makarius Bere Nahak, menuturkan terpaksa melaporkan SAB dan AK karena mengancam dan menyerang fasilitas negara yang dikendarainya.

Baca Juga:  Bupati TTU Serahkan Alsintan Bantuan di Oerinbesi

Dikatakan setelah pulang dari lokasi monitoring, malam itu juga langsung menuju Polres untuk membuat
laporan Satreskrim Polres Malaka pada 13 November 2020.

Saat membuat laporan Ia ditemani petugas Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang ada saat kejadian bersama menumpang mobil dinas KPU.

Makarius menceritakan kronologis kejadian Jumat (13/11/2020) bermula saat dirinya bersama PPS melakukan monitoring kampanye paslon nomor urut 1 SN-KT (Simon Nahak dan Kim Taolin).

Tepatnya di titik pertama di Dusun Weoe C, Desa Weoe. Setelah itu melanjutkan perjalanan monitoring di titik kedua Dusun Uluk Lubuk.

Baca Juga:  Hikmah Natal Mantan Sekda Ajak Masyarakat Bersatu Bangun Malaka

“Dalam perjalanan itu, saat tiba di perempatan jalan dusun Weoe A Barat, saya mendapat ancaman oleh SAB. Bilang begini “Ketua KPU, mati kau, mati kau saya foto,” kisah Makarius.

Dikatakan melihat aksi itu Ia merespon dengan menurunkan kaca untuk difoto oleh SAB. Setelah itu bersama PPS melanjutkan perjalanan.

Namun saat mobil bergerak tiba-tiba SAB memukul bodi mobil dan AK menendang body mobil sebelah kanan.

“Saya merespon dengan melanjutkan perjalanan untuk memonitoring kampanye di titik kedua”, cerita Makarius.

Makarius juga menjelaskan bahwa, saat itu dirinya memonitoring kampanye bersama PPS, bukan konvoi.

Baca Juga:  Prof Henuk Jadi Tersangka Kasus ITE, USU Tidak Mau Campur

Ia merasa heran, mengapa kejadian ini jadi viral, padahal sebelumnya dirinya memonitoring kampanye di desa Wederok dengan mobil plat merah milik KPU.

Menurut Makarius saat kampanye paslon nomor urut 2 paket SBS-WT di desa Wederok beberapa waktu lalu. Bersama PPS monitoring menggunakan mobil plat merah milik KPU (fasilitas negara), sempat viral tapi tidak di permasalahkan.

” Kejadian di Weoe ini menjadi sorotan, yang mana jelas bahwa saya dan PPS sebagai penyelenggara menjalankan tugas monitoring,” sebut Makarius.

  • Bagikan