Pemimpin Idaman Rakyat Malaka

  • Bagikan

Oleh: Benyamin Mali
Alumnus S2 FISIPOL Universitas Indonesia

JUDUL tulisan ini saya ambil dari judul satu Youtube yang dikirim melalui group WA. Saya tidak membuka Youtube itu karena begitu terpesona dengan judul yang tertulis di situ.

Terpesona karena di dalamnya terbayang ‘sesuatu’ yang begitu real dan aktual terkait perkembangan politik Malaka kontemporer.

*Pertama, judul itu menyiratkan ketidakpuasan rakyat Malaka terhadap kepemimpinan Stefanus Bria Seran (SBS) selama 5 tahun ini.

Terlepas dari berapa persen persisnya jumlah rakyat yang tidak puas, dan terlepas dari siapakah yang nanti akan keluar sebagai pemenang pilkada.

Ketidakpuasan ini dapat dibaca dari animo masyarakat terhadap kampanye SBS di banyak tempat yang konon-kabarnya hanya dihadiri oleh segelintir orang.

Hingga insiden pelemparan mobil Ketua Tim Pemenangan SBS dalam perjalanan menuju salah satu lokasi kampanye.

*Kedua, judul itu pun menyiratkan adanya upaya masyarakat mencari seorang figur idaman untuk memimpin mereka sekaligus membangun Malaka dalam semua dimensinya.

Kalimat “Mencari” menyiratkan “ke-belum-an” – jika tidak mau menyebutnya suatu “vaccuum”, “kekosongan” dalam menemukan figur pemimpin Malaka yang mumpuni, yang memenuhi harapan, dambaan, dan idaman hati rakyat Malaka.

Tegasnya hal ini mengandung arti: “SBS bukanlah figur idaman rakyat Malaka”.

Dan karena kontestan pilkada Malaka 2020 ini hanya dua pasangan, maka Simon Nahak adalah figur potensial yang sangat boleh jadi merupakan figur idaman rakyat Malaka yang selama ini dicari.

Bahwa ada seruan bahkan teriakan “ganti bupati” dari masyarakat di tempat kampanye SN-KT.

Hal ini dapat dibaca sebagai letupan-letupan kekecewaan terhadap figur SBS.

Apalagi di daerah tertentu, laki-laki dan perempuan bersama-sama memikul baliho SN-KT untuk didirikan di pinggir jalan.

Ini tanda-tanda yang semakin jelas menunjukkan keberpihakan rakyat kepada figur SN-KT.

Dengan pengantar ini, saya mau bicara tentang “Pemimpin idaman rakyat Malaka”.

Saya berharap semoga tulisan ini menjadi bacaan waktu senggang yang menarik bagi seluruh rakyat Malaka, khususnya para (calon) pemimpin Malaka, sekarang dan di waktu-waktu yang akan datang.

Secuil Catatan Awal

Kata ‘idaman’ terkait erat dengan kata harapan, dambaan, kerinduan, dan hati. Dengan kata harapan, dambaan, dan kerinduan, kata idaman menemukan padanan dan kembarannya.

Sementara dengan kata hati, kata idaman menemukan sumber asal-usulnya. Di dalam kata hati, kata idaman mendapatkan kesempurnaannya dan menjadi sempurna. Ini nyata dalam ungkapan: idaman hati.

Baca Juga:  Kim Taolin Cawabup Malaka Selalu Hadir di Tengah Masyarakat


Artinya apa yang selama ini diharapkan, didambakan, dan dirindukan oleh hati, hatiku, hatimu, hatinya, hati kita, hati rakyat Malaka.

Oleh hati artinya oleh seluruh pribadi seseorang, lantaran hati merupakan intisari kepribadian manusia.

Ungkapan idaman hati mengandung makna idaman seorang pribadi dalam totalitas dirinya sebagai manusia, dalam keutuhan dirinya sebagai makhluk yang ber-akal budi (Ratio, Cipta), yang ber-kemauan, ber-keinginan, dan ber-kehendak (Affectio, karsa), dan yang ber-perasaan (Emotio, rasa, pressman).

Ratio, affectio, dan emotio merupakan tiga daya psikologis yang membentuk keutuhan pribadi seorang manusia.

Ketiganya menjadikan manusia makhluk ciptaan Allah yang luhur-mulia dan berbeda dari ciptaan lainnya. Di dalamnya harkat dan martabat manusia terukir dengan tinta emas.

Analogi yang tepat untuk menjelaskan hati sebagai intisari kepribadian manusia ini, saya ambil dari salah satu tradisi penghayatan iman umat Katolik, yaitu Devosi kepada hati kudus Yesus.

Jika umat Katolik berdevosi kepada Hati Kudus Yesus, itu Tidak berarti bahwa mereka menaruh perhatian dan hormat khusus, serta berdoa khusus kepada Hati atau Jantung (Fisik) Yesus yang ditembusi tombak algojo Romawi dan yang mengeluarkan darah dan air (Yohanes 19:31-37).

Melainkan mengandung arti bahwa mereka menaruh perhatian dan hormat khusus serta berdoa khusus kepada Yesus dalam keutuhan-Nya sebagai Pribadi: Allah sekaligus Manusia, yang berbelas kasih, yang mencintai manusia hingga sehabis-habisnya, yang mengorbankan nyawa-Nya dengan mati di salib demi keselamatan manusia.

Pemimpin idaman, adalah pemimpin yang mampu memperlihatkan keseimbangan antara tiga daya psikologis di atas.

Bila selama masa-masa pendidikan, mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi, ketiga daya psikologis ini tidak dididik, dibentuk sebagai suatu keutuhan (wholeness) yang seimbang dalam diri seseorang, maka jangan berharap banyak bahwa di kemudian hari.

Ketika dia menjadi pemimpin, di bidang apa pun, termasuk bidang politik, dia akan memperlihatkan suatu karakter atau kepribadian yang seimbang; ia sebaliknya akan menunjukkan karakter yang miring, tidak seimbang.
Kecerdasan akalnya (IQ) yang mungkin tinggi tidak dia imbangi, misalnya, dengan kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) yang tinggi pula.

Ketidakseimbangan psikologis antar ketiga daya itu sudah pasti akan tampak, kecuali ada mukjizat yang secara supranatural membuatnya sadar untuk mengubah karakternya.

Dari Mana Atau Mana Atau Di Mana Kita Mulai..?

Baca Juga:  Salah Kelola Dana Desa, Jaksa Tahan Kades dan Bendahara Naekake B, Mutis

RAKYAT Malaka mencari figur pemimpin idaman karena tampaknya ada sesuatu yang tidak berkenan di hati mereka dengan performance pemimpin yang sekarang, entah apalah persisnya sesuatu itu.
Pertanyaannya dari mana atau di mana percarian itu dimulai..?

Mulailah dari manusia-nya sendiri, dari kata dan perbuatan-nya, yang merupakan hal paling mendasar dan paling pribadi yang menggambarkan secara paling pasti dan meyakinkan siapa ‘pemimpin idaman’ itu. Mengapa?

*Pertama, karena Kata dan Perbuatan, Lisan dan Laku seseorang memberi isyarat paling pasti dan meyakinkan apakah dia pantas disebut pribadi idaman atau tidak.

Di dalam kata dan perbuatan, seseorang menyingkapkan siapa dia sesungguhnya, apakah dia menjadi kabar gembira atau kabar buruk bagi sesamanya, bagi rakyat yang dipimpinnya.

Pemimpin idaman adalah dia yang selama ini diharapkan kedatangan dan kehadirannya di tengah semua yang sudah hilang harapan, yang sudah putus asa, yang sudah tak mampu bersuara.

*Kedua, karena rakyat itu manusia. Memimpin rakyat berarti memimpin manusia, Bukan memimpin “binatang” berkaki dua.

Dengan struktur tubuh berdiri tegak dilengkapi dua pasang mata di depan, dan dua pasang kuping di sisi kiri dan kanan kepalanya..! Memang, manusia itu ‘binatang’ juga.

Namun binatang satu ini dikatakan punya: (a) ‘akal-budi untuk berpikir dan merenung, menjelajah semesta alam dan menghasilkan kebudayaan dan ilmu pengetahuan (ratio, cipta).

(b) Hati untuk berkehendak, kehendak bebas, kebebasan (hati, karsa, affectio); dan

(c) Perasaan untuk menanggapi semua rangsangan dari luar (emotio, cinta dan benci, gembira dan sedih, marah karena tersinggung, dan ramah karena aman-damai-sentosa).

Atas dasar itu, pemimpin idaman adalah orang yang menjunjung tinggi kemanusiaan, yang tercermin di dalam Kata dan Perbuatan, Lisan dan Laku.

Kata-kata tercermin di dalam perbuatan-perbuatan, dan perbuatan-perbuatan meneguhkan kata-kata. Dengan begitu, “kata dan perbuatan adalah satu “.

Itulah yang disebut Kebenaran, “kesesuaian antara alam pikiran dan realitas.” Bila berkata A maka realitasnya juga hendaknya A.

Inilah yang disebut pemimpin pembawa pengharapan, pembawa perubahan. Selain dari itu namanya Tipu Muslihat, Kebohongan dan Pembohong, yang sumbernya datang dari si Jahat.”

Dalam konteks ini, seorang pemimpin hendaknya mempertimbangkan dalam setiap Kata dan Perbuatan-nya.

Tiga prinsip dasar orientasi etis


(1) Kesamaan: pemimpin dan yang dipimpin itu sama-sama manusia: [a] sama di depan hukum; [b] sama di dalam politik; [c] sama dalam hidup bermasyarakat – tiada TUAN-RAJA dan hamba sahaya!); dan [c] sama dalam peluang berusaha.

Baca Juga:  Suasana Haru Mewarnai Sertijab Bupati Malaka, Ini Pesan Viktor Manek

(2) Kebebasan: sama-sama diciptakan bebas oleh Tuhan, sehingga sama-sama punya kebebasan, yang tentu saja tidak 100% karena dibatasi oleh kebebasan orang lain dan aturan hidup bersama (hukum dan norma-norma).

(3) Solidaritas : kesetiakawanan, senasib-sepenanggungan, yang kuat sedapat mungkin membantu yang lemah, bukan menindas yang lemah.

Wilayah Malaka dimekarkan menjadi sebuah Daerah Otonomi Baru (DOB), karena kita sama-sama menginginkannya dan sama-sama berjuang untuk mewujudkannya berapa pun dan apa pun ongkosnya.

Solidaritas harus terus dikumandangkan dan diperjuangkan di Tanah Malaka, agar putra-putri Sabete Saladi ini Haktaek Abete -Saladi ini Haktaek No Hakneter satu sama lain. Bukan sikut-menyikut, sundul-menyundul, tendang-menendang.

“Maka politik boleh politik, namun di atas politik ada Kemanusiaan,” demikian kata Gus Dur, almahrum mantan presiden kita.

Dengan demikian, Pemimpin Idaman Rakyat Malaka adalah pemimpin kemanusiaan, yang berada di depan, di tengah, dan di belakang rakyat, yang adalah juga manusia-manusia yang berakal-budi, berhati nurani, dan berperasaan.

Bila ada yang akalnya pas-pasan dan karena itu sering “kepala-batu dan kepala-angin,” berilah dia pengertian terus-menerus. Bukan meneriaki dia dengan kata-kata yang tidak manusiawi, tidak beradab.

Inilah pengorbanan dan panggilan hidup seorang pemimpin, suatu pekerjaan yang dikehendakinya sendiri dengan mencalonkan diri menjadi pemimpin.

Memang tidak mudah! Tetapi, “Siapa suruh datang Jakarta…Siapa suruh jadi pemimpin.”

Bijaklah Dalam Memilih
Pilkada Malaka 2020 ini hanya menampilkan dua pasang anak kandung Malaka yang akan head to head memenangkan pertarungan. Ada petahana ada pendatang baru.

Dua-duanya sama-sama mengaku dipanggil untuk mengabdi Tanah Malaka dan sama-sama mengaku pantas dan layak dipilih.


Bedanya ialah dalam kampanye, yang petahana bercerita tentang suksesnya dengan menunjuk pada bukti-bukti.

Entahlah bukti-bukti suksesnya ada dan berkualitas atau abal-abal menggelikan. Setiap kali kampanye di mana pun, dia berteriak, “Saya tidak berjanji saya menunjukkan bukti” kendatipun masih juga ada selipan janji.

Sedangkan, yang baru datang tidak bisa menunjukkan bukti pengabdian yang konkret. Yang ditunjukkannya adalah Juanita’s dirinya, sebagai bekal satu satunya yang memberanikan dia maju bertarung.

Mana Yang Menjadi Idaman Rakyat Malaka…?

Penulis,
Diaspora Malaka Jakarta, Asal Kampung Kletek, Malaka Tengah, Dosen di Jakarta

  • Bagikan
error: Content is protected !!