Selimut Hitam

  • Bagikan

CAKRAWALA Hitam membungkus Terang siang itu. Kumpul-gumpal Gemawan juga sama diselimuti Hitam. Aku menunduk kepala, bahu pundak terasa berat.

Beban ini, seperti sekarung Goni padi gabah. Terisi penuh menjahiti bibir kemasan.
Punggung membungkuk, saat ingin berdiri kokoh. Pinggang begitu perih.

“Duh…,lelah-pegal pinggang kekar ini!”.

Menghampiri pondok mini, ditengah kebun Kopi. Aku melihat buah-buah matang dalam kera keranjang, yang dijunjung di atas Mahkota Bunda.

Leher keriput dibebani beban buah Kopi matang. Seember di tangan kiri, tangan kanannya terus memilah buah yang siap ditimbang di koperasi desa. Biar esok, sekilo-duakilo beras bisa terpenuhi. Makan pagi hingga malam.

Rintik-rintik gerimis, menyirami kebun Kopi. Dedaunan hijau, dimandikan dibolong itu. Dengan dilandai gerimis, kilapan daun-daun kopi memberi cerminan kehidupan.

“Aku,tak mampu melihat siapa diri ini. Apalagi bungkukan tulang belakang Bunda semirip angka tujuh ganjil. Aku melihatnya, Ia menatapku penuh senyum. Lelehan peluh di kening beradonan basuhan Air hujan. Wajah renta, dimandikan tanpa busa “.

Baca Juga:  Mantan Sekda Belu Yakin Sistem Pemerintahan Malaka Jauh Lebih Baik di Pimpin SN-KT

Ibaku, menatap paras cantik yang sudah renta keriputan. Dengan Usia berkepala tujuh. Ia membisu, suara serak tak dilantangkan, untuk segera pulang. Ia memang terlahir Bisu, hanya bahasa tubuh. Ia lantas memukul pundakku.

Aku, memikul keranjang dan sama berbalik menuju Gubuk. Menuntun jalanan licin berkubang jejak Kerbau,melintas saat Senja tiba.

Untuk menoleh kebelakang pun tidak, sedangkan beban di bahu sembari menggiring dua ekor Kambing piaraan.

Suara tangisan Zodiak kelahiran, menyapakan berulangkalinya untuk menoleh kebelakang. Kuping ini, seperti ketulian.

Sepasang piaraan sesaat berhenti. Aku menatap Bunda begitu lelah, duduk di atas rumputan hijau dengan memegang Tongkat .

Ia mendahuluiku, sebagai penunjuk jalan. Jari telunjuki pada seember Kopi.
Bunda sudah kelelahan.

Ia mengajarkan untuk melangkah pulang. Bunda penunjuk jalan kebenaran.

Dengan memegang tongkat, ia bertatih-tatih menapaki kubangan kerbau. Tanah hitam berlumpuran, licin rintik gerimis mengguyuri.

Baca Juga:  Ajang Pameran Oekusi, Dongkrak Ekonomia dan Hibur Warga

“Bila gerimis merilis undangan hujan,mungkin sangat parah nantinya “.

Di kutub barat itu, jingga masih berselimut hitam. Kampung lama terus berduka.

Senja juga belum bersahabat. Kampung tua sudah dikosongkan semenjak ditimpa longsor 5 tahun silam.

Kisah demikian, semua warga bermukim di bawah bukit batu yang melimpah akan sumber air.

Langit Senja melukis bintik rintikan. Gerimis seakan mengundang kehebatan hujan. Kerana gemuruh guntur terus menggeparkan.

Sang Fotografer berulang kali menjepretkan diatas luas Cakrawala. Lembar-lembar gambaran Senja ,menegur langkah dipercepar. Biarkan lebih awal tiba, daripada terhalang tangisan yang lebih menakutkan.

Buah-buah kopi didalam kemas dan seember, disimpan di atas bale-bale bambu. Buah tangan almarhum ayah.

Kandang yang dirindukan penghuni telah datang. Lengkaplah sudah kekerabatan. Hidup saling melengkapi, dalam mengisi malam jemputi pagi.

Segelas Teh diseduh saji di atas meja. Segelas habis dalam sekejap. Aku lantas kebingungan,dengan tua renta berkepala tujuh meneguk secepat itu. Pencepatan juga,terkadang misteri.

Baca Juga:  Hari 1 Bupati-Wabup Malaka Berkantor, ASN dan TKD Kebingungan

Atap lumbung bertebaran asap dari dalamnya. Lewati pertemuan ilalang yang tersusun rapi oleh hasil gotong-royong warga sekitar. Usia gubuk hampir seusia Ibunda.

Aku gegas menyusul. Hujan sudah sangat lebat. Kehebatan sudahlah menentu. Genaplah, Aku dan Ibu mengelilingi tungku-tungku kehangatan.

Cukup hangat Malam ini!”.

Melihatnya berbaring lemas oleh lelah seharian dalam Kebun Kopi. Paduan batuk bertubi-tubi mengenapi kesepian di tepian Malam.

Lampu Minyak saksi terang, hanya seisi bilik Tua. Gelap melegam dari balik pintu gubuk yang terbuka lebar.

Aku masih melihatnya tak berdaya. Gementar kedinginan. Ia berbahasa tubuh, menyelimutinya dengan Selimut. Kedua mata tertutup, dibalut kegelapan.

Aku mendekapinya dengan deraian, Bunda sudah Berselimut Hitam. Baringlah dengan tenang.

Ibu sudah dipanggil olehNYA. Berselimut Hitam, hanya raut wajah nampak dalam Dompet, foto setengah badannya.
Aku, rindu Selimut Hitam.
Kelaknya, Kita sama.

***
Oleh
Melkianus Nino
Nekafehan-Belu- NTT

Penggiat Literasi
—————————

  • Bagikan
error: Content is protected !!