Sebuah Catatan untuk Penanganan Covid- 19

  • Bagikan

Oleh Fidel A. Olin*

DUA Berita dan informasi gembira dan sekaligus memberikan asa besar soal Corona dalam beberapa minggu terakhir ini yang menguatkan saya dan mengubah presepsi dan pemikiran saya soal pandemi global ini.

Selain itu, semakin meluasnya vaksinasi massal. Ini juga merupakan berita penting untuk melawan berita-berita hoax yang banyak kali menyeramkan daripada virus Corona itu sendiri.

Ini bukan saatnya untuk takut. Inilah waktunya bangkit melawanpenuh optimisme! Setelah setahun lebih serangan dashyat virus ini yang melumpuhkan dunia, menalan berjuta nyawa manusia, ada harapan besar bahwa Corona bisa dilawan dan dikalahkan walau tidak akan ditiadakan dan menghilang.

Informansi dan berita pertama yang saya peroleh dari WA group adalah tersedia para relawan dari para pasien yang telah sembuh dan pulih dari serangan virus Corona.

Mereka membentuk kelompok/group dan Komunitas Relawan yang bersedia dan penuh suka rela menyumbangkan dan mendonorkan plasma darah konvalesenbagi para pasien yang sementara ini dirawat atau menjalani isolasi/karantina karena positif Corona.

Jadi para mantan pasien atau mereka yang pernah terpapar yang telah sembuh bisa bermanfaat untuk membantu mereka yang sementara dirawat.

Berita kedua,Lucile Randon atau Sister Andre, seorang suster/ biarawati Katolik yang pada tanggal 11 Februari 2021 berumur 117 tahun berhasil menaklukan sergapan Covid 19 sehari sebelum perayaaan ulang tahunnya yang ke 117! Luar biasa memang.

Suster Andre yang merupakan orang tertua di Eropa dan juga tertua kedua di dunia, bukan cuma mengkanvaskan Covid 19 tetapi bahkan sudah pernah menaklukan pelbagai tragedi dashyat dunia antara lain flu burung 1908. Perang Dunia I dan II dan tanggal 10 Februari 2021 kemarin kembali menaklukan Covid 19.

Saat pertama kali divonis terpapar virus Corona di panti jompo di Toulon-Perancis Selatan, Suster Andre yang sudah buta dan menggunakan kursi roda dengan tenang berkata; “Aku tidak merasakan sakit”.

Baca Juga:  Panenan Kacang Tanah Meningkat , Ini Saran Bupati TTU

Suster Andre tidak pernah menunjukan rasa takutnya terhadap Corona. “Saya tidak takut, karena saya tidak takut mati”, jawab Suster Andre di luar dugaan ketika ditanya soal Corona.

Dari dua berita di atas ditambah dengan gerakan vaksinasi yang makin meluas memberikan catatan penting bahwa Corona tinggal menunggu saatnya untuk ‘dikalahkan’. Vaksin telah tersedia, para penyitas atau mantan pasienpun banyak bersedia untuk turun ke medan laga menghadang laju serangan Corona.

Ditambah pula para ‘lansia’ yang merupakan salah satu kelompok paling rentan ternyata memiliki ‘kekuatan’ untuk melawan Corona dengan optimism mereka!

Sejak awal ketika muncul Covid 19, prinsip yang dianjurkan untuk dipegang teguh adalah kewaspadaan bukan ketakutan apalagi paranoid. Waspada adalah keharusan tetapi paranoid jangan.

Artinya kewaspadaan terhadap penyebaran dan serangan virus ini harus menjadi nomor satu dan tetap berjalan dengan menjaga imun/daya tahan tubuh dan patuh pada Protokol Kesehatan (prokes) yang telah dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Oleh karena itu, apa yang disebut parno harusdihindari. Waspada tidak berarti takut apalagi sampai taraf parno. Paranoid atau ketakutan dan kepanikan yang berlebihan terhadap Corona justru menurunkan bahkan menghilangkan imun tubuh yang menjadi jalan mulus masuknya virus Corona.

Bersilewerannya informasi dan berita, entah sadar atau tidak telah banyak menimbulkan ketakutan dan kepanikan yang luar biasa hingga hari ini. Bahkan ada negara yang gagap dan salah kaprah mengambil tindakan hanya karena informasi-informasi liar menuju hoax.

Corona malah dipolitisir, dimanfaatkan untuk kepentingan politik oleh penguasa atau pihak tertentukhususnya politik anggaran yang unlimited.
Seturut para pakar kesehatan, hingga saat ini apapun virusnya tak ada obat yang bisa membunuhnya termasuk virus Corona karena virus bukanlah penyakit.

Baca Juga:  Cegah Ketimpangan Sosial Pilih Pemimpin Yang Tahu Adat Wese – Wehali

Virus cumalah makhluk hidup yang numpang hidup dalam tubuh manusia atau benda lainnya. Penyakit yang ditimbulkan oleh virus yang dirasakan dan diderita manusia adalah racun atau kotoran yang disemburkan virus di dalam tubuh manusia.

Pada saat daya tahan tubuh manusia menurun, saat itulah racun atau kotoran virus menguasai tubuh manusia sehingga menimbulkan sakit/penyakit. Karena virus bukan penyakit dan tidak ada obat, maka yang bisa melawan penyakit yang disebabkan oleh kotoran/ racun virus adalah vaksin dan peningkatan imunitas tubuh.

Artinya obat yang paling utama dan mujarab untuk melawan virus adalah ketahanan/imunitas tubuh. Maka yang dianjurkan dalam kondisi pandemik seperti saat ini adalah mengkonsumsi makanan yang memliki daya tahan terhadap racunseperti vitamin C atau rempah yang banyak kadar antibody-nya. Selain itu, kebersihan harus tetap dijaga.

Menurut para virulog, tingkat kesembuhan virus Corona jauh lebih tinggi dari demam berdarah. Setelah lebih setahun berjalan serangan massifnya, hari-hari ini adalah kesibukan untuk memberiperlawanan terhadap pandemi Corona. Grafik kepanikan dan paranoid telah menurun.

Jumlah yang terserang atau positif maupun kematian akibat Corona pun melandai sedangkan angka kesembuhan menanjak. Ini seiring dengan gerakan vaksinasi dan cara penanganan yang sesuai jalurnya.

Herd immunityatau kekebalan massal yang diidam-idamkan hampir tercapai.Herdimmunityinilah yang sedang dikejar untuk menyudahi pandemi ini.

Apa sebenarnya herdimmunity? Dalam dunia medis, herd immunity bukanlah istilah baru walau bagi publik ini adalah term baru yang masih asing. Herd immunity atau sering dikenal dengan kekebalan kelompok adalah situasi di mana sebagian besar orang dalam suatu kelompok telah memiliki kekebalan terhadap penyakit infeksi tertentu.

Baca Juga:  Covid-19 Kabupaten Belu 24 Sembuh 31 Isolasi

Semakin banyak orang yang kebalterhadap suatu penyakit, semakin sulit bagi penyakit tersebut untuk menyebar karena tidak banyak orang yang dapat terinfeksi lagi. Secara sederhana, herd immunity adalah sebuah kondisi di mana banyak orang telah menguat kekebalan tubuhnya sehingga serangan virus tidak lagi menjebol.

Herdimmunity dapat dibentuk dan diperoleh secara artificial dan juga natural.Vaksinasi adalah pembentukan herdimmunity secara artificial. Vaksinasi adalah cara yang dapat ditempuh untuk mendapatkan kekebalan pada banyak orang.

Dengan memberikan vaksin terhadap banyak orang maka akan terbentuk herdimmunity dalam masyarakat sehingga serangan virus seperti saat ini bisa terbendung dan ruang lingkup serangannya dipersempit. Secara natural, herd immunity juga bisa terbentuk walau bagi banyak orang herd immunity alamiah ini sedikit tidak manusiawi.

Dalam kaitan dengan Corona pernah ada ide untuk mendapatkan herd imunity natural. Ide ini berangkat dari daya serangnya yang begitu massif dan melumpuhkan dunia. Herdimmunity alamiah ditempuh lewat cara membiarkan banyak orang untuk terpapar virus Corona hingga 70-80% populasi.

Bila semakin banyak orang yang terinfeksi dan sembuh, semakin banyak orang juga orang yang kebal dan herd immunity dengan sendirinya terbentuk.Ini berdasarkan pada fakta bahwa mereka yang telah terpapar virus Corona dan kemudian sembuh, tidak akan terpapar lagi untuk kedua kalinya.

Walau herd immunity alamiah ini merupakan sebuah alternatif tetapi cara ini tentu bukan pilihan tepat karena ada tindakan pembiaran terhadap masyarakat untuk terinfeksi dan berlaku hukum alam; siapa kuat dia akan bertahan hidup, siapa lemah dia akan terbawa arus deras Corona (meninggal dunia).

Jadi membiarkan alam menyeleksi manusia. Selain itu, titik lemah lain dari herdimmunity natural adalah butuh waktu yang cukup lama untuk terbentuknya herd immunity.

  • Bagikan