Sedamai Dalam CINTA

  • Bagikan

Oleh Melkianus Nino

TEPAT di hujung 02.00 jelang petang, mentari tertutup bayang awan hitam. Hujan tak hentinya memainkan irama keyboard di atas sederetan atap kamar kosku. Suasana makin sepi oleh penghuni yang pada pulang liburan jelang hari natal dan akhir tahun. Aku menyendiri dalam kesepian, hanya keributan deraian dan raung angin.

Untuk menutupi kesepian, aku memasangkan kedua heansed pada kuping. Sembari mendengarkan suara emas Victor Hutabarat. Tembang kenangan rohani natal mengiris-iris fikiran, untuk kembali ke kampung halaman.

Namun, terkendala cuaca yang kurang bersahabat akhirnya aku harus memilih untuk tetap bersabar. Acapkali kedua orangtua dan ivan si bung men-calling untuk pulang, Aku harus jujur kepada mereka, tentang cuaca lagi pula penyelesaian Skripsi dan kegiatan kerohanian jelang natal.

Kesibukan yang serba padat itu, membatasi kabar dari mereka.
Deras tangis hujan terus menindih bentangan atap, terkadang aku membuka tirai jendela dan mengitip keluar. Hujan juga belum pulih-mereda.

Aku berbalik badan menuju ke ranjang. Bunyi nada via chatingan berbunyi berulang kali, saat sedang menyegarkan badan dalam bilik kecil. Hujan lebat berubah penuh harap, reda juga. Aku bergegas balik melihat satu chat masuk, ternyata Anwar sobat kampus yang seruangan.

“Mariana…, tunggu sekarang!”. Lirihnya via Chat.
Aku tak membalas maksud yang dikirimkannya, karena janjian untuk mengikuti apel siaga di halaman gereja, bersama tim banser, komunitas muda mudi gereja dan kelompok lingkungan yang bertugas ditanggal 24 malam.
Dengan penuh ketegasan untuk perdamaian yang kondusif, kakak Mudin yang dipercayakan untuk mengendarai tim lintas agama tidak tanggung melupakan suara aura positifnya.

Baca Juga:  Siswi Tidak Disertakan Dalam UAS, Wakil Bupati TTU Langsung Datangi Sekolah

Demi berjalannya misa malam natal di esok nanti, saya atas nama lintas iman yang berbeda meminta partisipasi mendalam untuk melakukan siaga penuh. Di awali tanggal 24 pagi hingga 26 desember dan dilanjutkan pada penutupan akhir tahun. Saya telah berkoordinasi dengan jajaran kepolisian, instansi terkait, tokoh masyarakat dan semua lintas agama. Dengan satu tujuan yakni, mari saling mendamaikan.

“Hanya ini saja yang saya sampaikan atas perhatian dan kerjasama yang matang demi terciptanya kerukunan antara umat beragama. Saya ucapkan terima kasih”. Terangnya.

Barisan yang tersusun rapi dipadukan oleh Anwar pun dibubarkan. Untuk menindak lanjutkan arahan kakak Mudin, dia pun menyerukan hal yang sama.

” Mari saling mendamaikan, semua barisan tidak untuk pulang. Kita akan menyiapkan schedule dan tempat penyiagaan di beberapa gereja terdekat, sehingga keadilan siaga di hari esok bener-benar terjadi”. Sergah Anwar.

Dengan mengangguk kepala, barisan yang dibubarkan pun menunggu hasil schedule atas arahan kakak Mudin.
Karena jadwal telah ditempelkan pada papan pengumuman, dengan antusiasme tiap komunitas agama saling kenal untuk mengetahui tempat siaga yang tertera.

Suasana senja makin ramai dengan lalu lalang pejalan kaki dan roda dua. Tertampak kerlap kerlip lampu, menghiasi pagar gereja dan berdiri kokoh pohon-pohon natal buah tangan kelompok pemuda/i di area depan rumah ibadat. Penerangan jalan makin membabi-buta, bocah-bocah cilik menyaksikan aroma mengharukan benak mereka.

Sekilas bersantai ria, Aku, Anwar dan kerabat komunitas menuju ke kerai dan tenda-tenda menyelesaikan sisa kursi yang belum dirapikan.
Sejam berlalu, aku didatangi Mudin dengan tampak seperti preman kota. Ia menyodor senyum manisnya, dengan kedua lesung pipi yang menarik.

Baca Juga:  Uncy Nahak Pimpin OMK Paroki Sta.Maria Fatima Betun

Aku terbuai rasa kasmaran ingin bercanda gurau dengannya, hanya aku terkesan meragu kalau hanya sebatas membuatku senang sesaat. Hantauan benak yang terkenang tadi, aku hiraukan aku berbalik badan sembari meneguri Anwar.
“Anwar, aku duluan balik sekarang!.” Maaf, jika kamu belum merestuinya. Cukup banyak konsep tulisan skripsi yang belum tuntas”. Sindirnya.

“Oke, Mariana!”. Jawab Anwar sembari membuang tawa.


Mengingat jarak ke kos cuman 500 meter, aku melangkah kearah barat, sembari menikmati keramaian simpang empat. Aku dikejutkan dengan pengendara yang berhenti di samping kananku. Aku sungguh tak mengenalnya, oleh helm masker yang menutupi wajahnya. Saat melepas helm, ternyata si Mudin. Suara lantangnya berubah akrab, sungguh mengena di benak ku.
” Oh, Mudin tak seseram lantangannya. Di balik niat besar, tersimpan sejuta kebaikan demi kedamaian. Dalam kedamaian, ada CINTA”. Gumamku.
Aku terbawa harus terbawa arus si Mudin, saat turut menunggang motor miliknya. Aku tak bisa berkata apa-apa di belakangnya. Aku membisu, mengikuti tujuan roda melintasi keramaian, yang sangat mendamaikan aku, Mudin demi keimanan masing-masing.
“Apakah ini sedamai, secinta di hujung tahun?” : tanyaku membungkam.


Keesokan pagi, sekelompok jago melepas nyanyian pagi. Kokohan sangat member kesan jelang terang. Sahutan terus digemakan, dari cabang-cabang pohon sungguh mengeparkan dan membangunkan mentari pagi. Aku harus menyesuaikan, dengan sorak sorai si jago pagi. ” Terima kasih TUHAN!”.

Aku memilah-milah pakaian yang akan dikenakan, sembari santai menyetrika, suara shalat subuh bergema dari kubah mesjid. Aku kembali teringat wajah Mudin yang melintasi sekejap. Setahun yang cukup mendamaikan aku dan Mudin.
Hits Solo Viktor Hutabarat, ‘Selamat Natal Dunia’, mengisi pagi dan memanggil penguasa terang. Terbit pagi membuka diri dibalik bukit Lakaan. Semua benar terjadi, DIA adalah, sahabat kedamaian.

Baca Juga:  Ansi Lema Kunjungi Kelompok KBR Noelbaki

Lonceng berbunyi berulang kali, aku menyiapkan diri dan menikmati perjalanan menuju gereja, setibaku dekat simpang empat, semua komunitas lintas agama, sudah siaga dan membatasi jalan utama masuk gereja. Tiap simpangan ditutup, aku bergabung dalam komunitas itu.
Pagi harus berbalik pamit dari kesibukan siaga. Waktu meroda menyapa mentari untuk menyaksikan aroma malam natal tiap sudut simpang jalan dipadati pengunjung untuk memuji kedatangan pencipta.

Aku, Anwar, Gede dan teman lainnya harus memantau pintu utama dengan saksama. Hasil pantauan tiap pengunjung berhasil terselesai, dengan kesaksian banyak mata.
Misa perdana berjalan hikmah, siaga penuh, membawa kedamaian tersendiri yang kami rasakan. Disaat salam damai diserukan semua yang mengikuti perayaan malam natal saling mendamaikan tanpa berjabat tangan.

Walaupun covid 19 membatasi, sekiranya kita memahami secara mendunia.
Aku, Anwar dan Gede saling memberikan salam covid, Mudin mendekapi dan turut memberi salam penuh haru. Ia harus membuka ucapan kepadaku.
“Salam natal Mariana, kita adalah satu kesatuan yang utuh. Kita juga, adalah pendamai dari Nya sang CINTA”. Ucapnya.

“Terima kasih juga Mudin, atas ucapan dan kerja keras yang matang. Secara pribadi, saya mengucapkan maaf lahir batin kepada semua, rekan lintas iman yang berpartisipasi aktif hingga perayaan malam natal ini. Semoga kalian diberikan berkah melimpah dari-Nya.

Penulis Tinggal di Atambua

  • Bagikan
error: Content is protected !!