Un Rosso AllaViolenza “Gerakan Kartu Merah Untuk Kekerasan”

  • Bagikan
  • * Oleh Fidel Ase Olin

KESALAHAN terbesar kita adalah membiasakan kekerasan sampai kita tidak menyadarinya. Mau tahu, disetiap penghujung November terjadi sebuah seremoni khusus dan unik yang biasanya dilakukan di Liga Sepak Bola negeri Pizza, Serie A- Italia.

Seremoni ini ditandai dengan adanya coretan merah pada pipi setiap pemain dari beberapa tim yang berlaga. Coretan merah menggunakan lipstik ini ternyata memuat pesan khusus dan unik yaitu ajakan kepada setiap orang untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak!!

Un rosso alla violenza atau Kartu Merah Untuk Kekerasan adalah nama gerakan itu. Gerakan kartu merah untuk kekerasan ini digagas oleh We World Onlus sebuah organisasi yang konsen dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak.

Gerakan ini sebagai satu aksi untuk mengisi Peringatan Hari Anti Kekerasan Terhadap Wanita yang berlangsung selama 16 hari/ 16 days of activism, ( 25 November-10 Desember).

Baca Juga:  Pemilih: The Silent Killer

Kewaspadaan dan pencegahan adalah alat yang utama untuk melawan fenomena kekerasan ini. Dengan adanya kampanye yang unik dan massif ini diharapkan menjadi momentum yang baik demi membantu membawa pesan penting kepada publik.

“Kesalahan terbesar kita adalah membiasakan kekerasan sampai kita tidak menyadarinya”. Itulah bunyi pesan yang selalu dikampayekan oleh para pejuang non-violence ini.

Hari-hari ini publik di Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan mungkin tempat lain begitu geram dengan kejadian kekerasan; penganiayaan dan kekerasan seksual.

Kemarahan dan geramnya publik bisa dilihat dari komen-komen di media sosial. Penulis dan siapapun memahami kemarahan dan kegeraman publik karena penganiyaan dan kekerasan seksual ini tidak manusiawi dan di luar batas kewajaran; terjadi di tiga (3) tempat yang berbeda.

Baca Juga:  Politik Dikambing Hitamkan, Menjadi Momok Masyarakat

Salah satunya di rumah jabatan bupati/fasilitas negara selama kurang lebih 6 (enam) jam. Boleh jadi keriuhan ini juga masih tercampur dan terbawa keriuhan Pemilihan Bupatidan Wakil Bupati 9 Desember 2020 kemarin.

Sebenarnya kejadian-kejadian kekerasan terhadap kaum perempuan seperti ini bukan pertama kali terjadi dan tidak saja terjadi di Kefamenanu tetapi kekerasan seperti ini telah mengglobal, sudah dan sedang bahkan akan terjadi lagi di berbagai belahan bumi lainnya.

Pada lain pihak, kekerasan seksual tidak hanya terjadi di dalam ruang-ruang privat dan tertutup tetapi juga terjadi di ruang publik dan terbuka. Walau PBB telah menetapkan 25 November sebagai International Day for the Elimination of Violence Against Women sejak 1981 faktanya kekerasan terhadap kaum hawa justru semakin marak.

Baca Juga:  Pemilih: The Silent Killer

Apa yang terjadi di bumi Biinmafo ini hanyalah fenomena gunung es; puncaknya yang muncul ke permukaan dan terpublikasi sedangkan beribu-ribupersoalan dan mungkin lebih besar, lebih heboh disebunyikan atau tersembunyi, tak terekspose, jauh dari publikasi.

Sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Medical Reserch Council mengungkapkan fakta yang sangat mencengangkan; 25% perempuan di Afrika Selatan pernah diperkosa!

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis fakta lain lewat laporannya pada tanggal 30 November 2020, pandemi Covid 19 memperparah bahaya kekerasan berbasis gender. Bahwa ada peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan selama pandemi Corona melanda dunia.

  • Bagikan